[Review Buku] Membasuh Luka Pengasuhan : Apakah Kita Orangtua yang Mempunyai Luka Masa Kecil?

7/05/2020




"Yang, nanti kalau kita punya Anak, dan misal kita berantem atau adu argumen atas sesuatu hal, jangan sampai terjadi di depan Anak kita ya. Aku tahu rasanya menjalani masa kecil dan dibayang-bayangi wajah Orangtua yang saling meneriaki satu sama lain. Sakitnya sampai sekarang".

Kira-kira seperti itulah perkataan saya ke Suami saya, Randi, saat kami menikah dan akan segera mempunyai Anak pertama kami. Saya yang blak-blak-an memang selalu cerita apa saja ke Randi termasuk mengenai masa kecil yang penuh dengan adegan "piring terbang" saat Orangtua ribut karena beberapa hal.

Ternyata, ingatan itu masih tajam hingga sekarang, dan membuat saya tidak ingin mengulang masa itu, juga tidak ingin membuat Anak-anak saya mengalami hal serupa. Jangan sampaaai.

Tapi ternyata, semua tidak semudah itu, terutama setelah sekian tahun berlalu, dan banyak hal yang membuat hati saya sakit, yang berasal dari pihak eksternal. Pada akhirnya, anak pertama kami, mulai melihat pertengkaran kecil kami, yang kemudian menjadi pertengkaran besar.

Si Sulung, yang saat ini akan segera memasuki babak baru si dunia pendidikannya ke jenjang Sekolah Dasar. Yang menurut hasil tes kematangan di sekolah TK-nya, Psikolog memberitahu kami bahwa hasil IQ Putra kami paling tinggi dari teman-temannya.

Image by Ulrike Mai from Pixabay 
Anak kami cerdas secara intelektual, namun apa kabar dengan kecerdasan emosinya? apakah di hatinya saat ini ada "luka" karena memori malam-malam penuh pertengkaran antara Mama Papanya?apakah itu yang membuatnya terlihat lebih "dewasa" pemikirannya dibandingkan teman-teman seusianya?

Saya dan Randi mulai mencari informasi mengenai itu, kami sepakat bahwa anak kami, harus tumbuh tanpa dibayang-bayangi luka batin. Apalagi yang disebabkan oleh Orangtuanya sendiri. Ikhtiar tersebut mempertemukan kami dengan Buku "Trilogy Parenting", yang terdiri dari, Membasuh Luka Pengasuhan, Ayah Tangguh, dan Membayar Utang Pengasuhan. Ketiga buku yang membahas mengenai Dunia Orangtua dan Anak, dari sisi Ibu, Ayah dan Anak.

Kami tertarik dengan Buku-buku tersebut karena ditulis oleh Pasangan Psikolog dan Psikoterapis yang juga concern terhadap dunia Parenting. Terlebih karena saya sudah "melahap" Karya mereka sebelumnya yang berjudul Anger Management, dan sangat mengena untuk saya yang kondisi psikis-nya sedang "naik turun".

Membasuh Luka Pengasuhan : Bagian dari Trilogy Parenting

"... kapankah terakhir berkunjung ke rumah Orang tua? kemarin? bulan lalu atau lebaran tahun lalu?"

"... ingatkah apa yang terjadi selama disana dan bagaimanakah sensasi yang dirasakan? sangat ngangenin? ah.. biasa saja, tidak ada yang istimewa atau hmmm... bahkan ada dari kitayang merasa tidak nyaman". -Membasuh Luka Pengasuhan. Halaman : 7-

Membasuh Luka Pengasuhan, adalah Buku pertama yang saya baca dari rangkaian Trilogy Parenting karya Dandiah (Diah Mahmudah & Dandi Birdy). Buku ini didedikasikan bagi para Bunda dan Calon Bunda untuk membasuh luka pengasuhan supaya siap menjalankan perannya sebagai "Ocean of Forgiveness & Sacrifice" bagi Keluarga.


Tanpa disadari, apa yang menjadi kebiasaan atau pola pikir kita saat ini, adalah "imbas" dari apa yang kita alami di masa kecil. Karena tidak semua Anak mendapatkan kebahagiaan yang semestinya, tidak semua Anak lahir dan tumbuh di tengah-tengah Orangtua yang kompak dan saling menyayangi. Tidak sedikit Anak yang lupa rasanya kangen ingin bertemu Orangtua.

Tidak sedikit juga Para Orangtua yang menjadikan Anak-anaknya sebagai pelampiasan amarah, diakibatkan dari masa kecilnya yang selalu mendapatkan kekerasan dari Orangtuanya, entah secara verbal, fisik, dan lainnya. Tidak sedikit Orangtua yang kebingungan asal muasal sifat pemarah dan tempramen-nya selama menjalankan Peran sebagai Ibu/Ayah.

Disini, saya sendiri pun mengalami kebingungan yang sama akan semua bad habbit saya yang kadang marah-marah gak jelas dan melampiaskan kekesalah kepada Anak-Anak yang bahkan mereka gak ngerti apa yang saya permasalahkan. Padahal, saya sudah berjanji kepada diri sendiri, dan kepada Pasangan, untuk tidak melibatkan Anak saat kami ditempa masalah apapun. Terutama saat kedua Jagoan kami masih di usia keemasannya.

Namun semuanya, ambyarrrrr.. seringkali kami, atau lebih tepatnya saya, tidak dapat menahan diri dan membiarkan perdebatan yang terjadi menjadi "tontonan" Anak-anak.

"kumenangiiiisss.. membayangkaaan.."


Buku Membasuh Luka Pengasuhan terdiri dari 7 Bab

Diawali dengan sekilas gambaran mengenai jendela jiwa seorang Perempuan yang dimulai pada halaman ke-7, buku ini memasuki Bab pertama di halaman ke-15.

Bab 01, Memaparkan apa saya yang menjadi "Drama nyata luka pengasuhan di kehidupan", yang salah satunya bisa saja merupakan milik kita, seperti :

  • Unwanted Child
  • Bully-ing "berawal dari rumah"
  • Sibling Rivalry
  • Buah Helicopter Parenting : "Anak lumpuh"
  • Parent Way
  • Broken Home
  • Anak terlantar di rumah mewah

Memasuki Bab 02, membuka mata saya mengenai definisi "luka pengasuhan" itu sendiri, dilihat dari perspektif psikologi, juga dari perspektif Islam.

Bab 03 merupakan salah satu terpenting yang tidak boleh dilewatkan menurut saya, karena berisikan kuesioner yang bisa kita isi sendiri dengan jujur sesuai dengan apa yang kita alami di kehidupan. Bagian ini sedikitnya akan memberikan kita pencerahan mengenai apa yang sebenarnya melatarbelakangi hal-hal yang sifatnya traumatis di masa kini, yang membuat kita takut dan apatis terhadap sesuatu. Setiap Pembaca tentu akan mengisi dengan jawaban yang berbeda, karena saya yakin, setiap orang mempunyai ceritanya sendiri-sendiri.

Di akhir kuesioner, ada norma yang menjadi penilaian apakah kita memiliki inner child, atau sebaliknya. Terdapat level tergantung dari besaran skor dari nilai kuesioner kita.  Hemm.. penasaran gak nilai skor saya berapa dan artinya apa? hemm.. kasih tahu gak ya? hihihi.


"Bunda.. sakit apa yang tidak berdarah tapi terasa sangat perih dan menyakitkan?
Ya betul.. sakit hati. Nyerinya tiada terperi namun tidak terlihat sama sekali". -Membasuh Luka Pengasuhan. Halaman : 56-

Di Halaman 56 ini kita memasuki Bab 04, yang akan mulai membuat kita menyadari bahwa bisa saja sampai saat ini ada "sosok anak kecil" yang terluka dalam diri kita, yaitu kita di masa lalu. Dimana semua itu merupakan "buah" dari luka pengasuhan, yang bisa datang dari ranah personal, relasi pre-marital, relasi marital, relasi sosial, dan relasi spiritual. Di akhir Bab kita akan diberi penawar ampuh dari luka pengasuhan.

Bab 05 akan mulai memberikan kita panduan untuk membasuh luka pengasuhan. Setelah kita mengetahui gambaran apa saja yang terjadi pada diri kita, yang mungkin berasal dari masa kecil. Saatnya kita membasuh itu semua, supaya tidak menjadi "penyakit" berkepanjangan yang tidak mustahil dapat membunuh kita secara perlahan.

Kita diajak untuk mulai menghadapi semuanya dengan lebih siap, lebih berani. Juga dibekali program Mental Wellness "40 Days SEHAT Challenge", dengan worksheet yang sudah disiapkan bukan hanya sebagai panduan terapi emosi namun juga diberikan program komprehensif mengenai perubahan gaya hidup yang dapat kita terapkan bersama Keluarga.



"Bunda, Sosok sacrifice itu pun sangat pantas disematkan di jiwamu : sosok yang tulus dan penuh pengorbanan". -Membasuh Luka Pengasuhan. Halaman :126-

Memasuki Bab 06 merupakan detik-detik dimana Para Bunda ataupun calon Bunda seharusnya mulai benar-benar menyadari bahwa kita adalah sosok yang sekuat dan setangguh itu. Disini saya banyak merenungi berbagai hal, tentang mimpi saya, passion saya, apa yang saya miliki saat ini, siapa saja yang menjadi penyemangat saya saat ini, dan lainnya.

Di Bab ini kita akan diajak untuk mengetahui tentang "5 kemilau emas seorang Bunda". Banyak penguatan-penguatan yang sangat kita butuhkan, seolah Penulis sedang benar-benar langsung berhadapan dan berkomunikasi dengan kita. Hati saya seperti menemukan celah untuknya menghirup udara. Ada dorongan untuk saya mulai mema'afkan diri saya sendiri, karena tantangan terbesar dalam hidup saya adalah saat saya harus menghadapi ketakutan di diri saya. Ada dorongan untuk semakin membuka hati dan mema'afkan apa yang selama ini menjadi "musuh terbesar".

Ini part terpenting lainnya yang tidak boleh dilewatkan oleh Pembaca. Karena kita akan semakin mengerti peran kita untuk diri sendiri dan di tengah Keluarga tercinta.

Bab 07, Hati yang merdeka, berdaya, dan bahagia. Bab penutup yang semakin menguatkan bahwa setiap orang dapat jatuh, namun harus mampu untuk bangkit kembali. Hal yang tidak mudah, namun bukan mustahil terjadi.


Catatan Personal mengenai Buku Membasuh Luka Pengasuhan (Trilogy Parenting Dandiah)

Banyak catatan untuk saya setelah membaca buku ini, banyak "PR" yang harus saya selesaikan satu persatu. Tentu saya menyadari bahwa mema'afkan itu adalah sebuah kewajiban, namun ada tingkatan-tingkatan yang harus saya lewati bertahap untuk menuju itu, setidaknya saat ini.

Saya bersyukur menemukan buku ini ditengah "degradasi" keyakinan saya akan sesuatu, yang bisa saja adalah "buah" dari apa yang saya alami di masa kecil ataupun beberapa tahun kebelakang. Namun, hidup terus berjalan, dan saya harus mampu move on dari kesalahan-kesalahan selama ini, terutama yang berkaitan dengan Pengasuhan.

Saya bertekad untuk menjadi Ibu yang lebih baik lagi bagi kedua Buah Hati saya, sehingga mereka dapat bertumbuh dengan bahagia dan dapat menjemput impiannya masing-masing dengan penuh keyakinan.

Saat saya mulai kelelahan (fisik ataupun psikis), saya mempunyai cara baru sebagai bentuk relaksasi untuk mengelola emosi saya, yaitu dengan cara Butterfly Hug. Ini cara yang saya pelajari dari Worksop Anger Management Dandiah saat itu, yang ternyata dibahas juga di Buku "Membasuh Luka Pengasuhan" ini, jadi kalau lupa bisa dilihat lagi gerakannya kurang lebih seperti ini.


Para Ibu dan Calon Ibu harus Membaca Buku Membasuh Luka Pengasuhan

Sebagai Seorang Ibu yang sudah membaca sendiri buku ini, saya sangat merekomendasikan Para Ibu lainnya dan Calon Ibu untuk membaca buku ini juga. Saya yakin setiap Ibu harus melewati "kerikil"nya sendiri, bahkan di satu waktu harus menikmati sakitnya karena tersandung batu raksasa yang menutup langkah.

Buku ini dapat menjadi pegangan, untuk tetap kuat, tetap bertahan, dan tetap berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang menyakitkan, dapat diredam dan dihilangkan, walau harus bertahap. Dengan tetap mengingat Sang Maha yang tidak akan menguji hambaNya diluar kemampuan.

Kertasnya berwarna, membuat semakin semangat baca, dan banyak infografis lucu di dalamnya

Buku ini wajib ada di rak buku setiap rumah, terutama saat mulai sering terjadi tindakan-tindakan yang tidak seharusnya terhadap Buah Hati. Saya yakin, Ibu yang menyakiti anaknya baik verbal maupun tindakan, tidak semuanya karena kesengajaan, kadang, seorang Ibu dibutakan oleh sesuatu yang dia tidak mengerti penyebabnya. Karenanya, please go get some help, salah satunya dengan membeli dan membaca buku ini.

Stay strong Moms, Hang On!

***

Trilogy Parenting - Membasuh Luka Pengasuhan

Editor : Mia Marianne
Ilustrator : Kinasih Keisha Mahrani F.
Desain Cover : Julian & Jendra
Tata Letak : Omenemo
ISBN : 978-623-913-170-8
Cetakan Pertama : Agustus 2019
Jumlah Halaman : 168

Diterbitkan pertama kali
oleh Zenawa Media Giditama
Jl. Cileungsi Jonggol No.86. Cipeucang,
Cileungsi Bogor Jawa Barat (Tentatif)

You Might Also Like

11 komentar

  1. Langsung reflek nyanyi ding oas bagian text “Ku menangis, membayangkan” hehehe. Buku nya menarik perhatian nih mba Han terlebih membahas ttg membasuh luka. Keknya harus baca ini sebelm menjadi orang tua ;)

    BalasHapus
  2. Keren ini buku, jadi pengen beli. makasih untuk review bukunya ya mb Hani dan semangat untuk tetap istiqomah membasuh luka pengasuhan. Insya Allah bisa

    BalasHapus
  3. Ini buku sih 'bergizi' banget untuk para orang tua dalam memahami pola asuh yang tepat.
    Iyaps saya juga setuju, ada baiknya ketika ada selisih paham suami dan istri sebisa mungkin tidak didepan anak sebab memori ingatan nya bisa mengunci hal itu yang mengkhawatirkan menjadi sisi traumatik tersendiri

    BalasHapus
  4. Luka psikis pada anak itu gak keliatan tapi mengerikan ya. Bisa membetuk karakter mereka hingga besaar nanti. Bagus juga bisa baca buku ini sebagai referensi para orang tua

    BalasHapus
  5. Sedihnya bad habbit tanpa sadar keluar saat kita cape dan depresi

    Karena itu tepat banget baca tentang parenting seperti Membasuh Luka Pengasuhan agar si bad habbit ngga muncul

    BalasHapus
  6. Jadi tertarik pengin baca bukunya, dan iya banget saya termasuk orang yang susah untuk mengontrol emosi, sudah semaksimal mungkin maunya tidak ingin ribut depan anak tapi ya gitu deh kalau sudah meluap susah dibendung. Tapi sekuat tenaga saya atau kami berusaha untuk tidak ribut depan anak.

    BalasHapus
  7. wah keren bgt bukunya...secar tidak langsung mengajarkan bersikap dan berperilaku baik terhadap anak . karena sekecil apapun luka yg dibuat pasti sang anak akan ingat.

    BalasHapus
  8. Duuuuh aku banget nih
    Kadang-kadang aku sadar kok kalau ada luka masa kecil yang gak tuntas
    Klo pas lagi waras ya berusaha kendaliin
    Tapi klo lagi error, anak yang jadi korban. Hiks....

    BalasHapus
  9. Aku udab Bava buku ini. Walaupun alhamdulillah Aku ngga punya luka pengasuhan tapi sangat bermanfaat terutama Mencegah luka pengasuhan pada anakku

    BalasHapus
  10. Calon orang tua emang kudu banget baca buku ini yaah kak, aku baca review di blog kaka aja ngerasa bahwa menjadi orang tua itu nggak mudah, harus da komunikasi yang baik tentunya antara suami dan istri agar tetap harmonis

    BalasHapus
  11. Buku yang menarik ini nie, apalagi kita juga orangtua ya, biarpun ga ada luka masa kecil.

    BalasHapus

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe