[Review Buku] Trilogy Parenting : Membayar Utang Pengasuhan

7/08/2020


"Karena pada akhirnya.. semua yang dicita-citakan semula tidak selalu akan tercapai. Harapan untuk menutupi luka di depan Anak-Anak tidak selalu terjadi seperti yang diharapkan. Pada akhirnya.. makhluk mungil itu melihat tangis Mamanya, mendengar amarah Mamanya, dan melihat saat Papanya berteriak di depan wajah Mamanya" - Hani S.

Membangun sebuah Keluarga memang tidak semudah yang dibayangkan saat masih remaja. Menyatukan dua hati, dua keluarga, mendapatkan keturunan, meraih semua impian, dan hidup bahagia selamanya. Ah.. itu hanya ada di dalam dongeng saja sepertinya.

Iya kah? tidak bisakah kita mendapatkan semua di kehidupan ini? sesulit itu kah?

Saat seseorang memutuskan untuk berumah tangga dengan Pasangan pilihannya, harus sudah bersiap dengan kehidupan di depan yang akan ada saja kerikil dan jalan berlikunya. Saat pasangan Suami Istri memutuskan untuk memiliki keturunan, harus sudah bersiap dengan Ilmu Parenting (basic), setidaknya sebagai "pegangan" karena menjadi Orangtua adalah pelajaran seumur hidup, setiap hari ada hal baru dengan cerita yang berbeda.

Saya mencintai suami saya, dan saya adalah Penggemar terbaik Anak-anak saya. Saya akan memberikan segenap kasih sayang saya untuk mereka, namun ada kalanya saya berubah menjadi "orang lain" di depan mereka. Ada momen dimana Anak-anak saya ketakutan berada dekat Mamanya dan matanya liar mencari sosok lain yang bisa memeluk atau mereka peluk.

Sedih rasanya setiap kali ingat.

Kalau kalian membaca tulisan saya sebelum ini, saya me-review salah satu buku dari Trilogy Parenting yang berjudul "Membasuh Luka Pengasuhan". Kalian saya ajak ke satu perjalanan mengenai cerita masa kecil seorang Ibu, yang bisa saja bahagia, namun bisa juga penuh luka dan masih membekas hingga saat ini setelah mempunyai Buah Hati. Sosok di masa kecil dengan kisahnya yang menjadikan kita, kalian, seorang Ibu dengan pribadi saat ini.

Kalian bisa baca tulisannya disini ya : Review Buku Membasuh Luka Pengasuhan

Saya dan Randi sadar betul bahwa ada kejadian-kejadian tidak seharusnya yang dialami Anak kami, terutama si sulung yang sudah mulai dapat mendeskripskan sendiri apa yang dilihat di sekitarnya, seperti saat harus (mau gak mau) mendengarkan percakapan nada tinggi antar Papa dan Mamanya saat adu argumen, dan lainnya. Banyak hal yang membuat kami akhirnya khawatir akan kesehatan mental Anak kami, banyak yang selama ini belum bisa dikendalikan terutama soal mengelola emosi, terutama saya.


Harusnya, di tulisan ini saya membahas Buku lainnya di Trilogy Parenting yang berjudul "Ayah Tangguh", namun saya lompatin dulu karena saya masih menunggu tanggapan dari Suami saya, yang saya minta untuk membacanya. Buku tersebut sangat tepat dibaca Para Ayah dan Calon Ayah sebagai pendampingan agar menjadi Ayah Tangguh yang dibanggakan. Meskipun, tentu saja saya pun ingin membacanya juga nanti, dan Insya Allah akan saya share juga ke Teman-teman semua ya di Blog ini.

Kali ini, saya ingin sharing mengenai Buku satunya lagi yaitu, "Membayar Utang Pengasuhan".

Trilogy Parenting : Membayar Utang Pengasuhan (MUP)

"Yakinlah, jika anak bermasalah maka pernikahan kita pun sedang tidak baik-baik saja". -Membayar Utang Pengasuhan. Hal. 9-

Kalimat-kalimat menohok langsung saya dapatkan di lembaran-lembaran awal Buku MUP ini. Salah satunya adalah "jika salah satu atau kedua pribadi tidak dewasa, maka akan sulit tercipta pernikahan yang sehat. Bahkan pernikahan menjadi disfungsional (tidak berfungsi)".

Terdiri dari 7 Bab yang berisikan panduan untuk membayar utang pengasuhan (terhadap Buah Hati). Setiap Bab harus dibaca dan diresapi dengan seksama, dan idealnya dipahami bersama Pasangan.


Bab 01 mengajak kita memahami kondisi pernikahan yang sedang kita jalani. Terdapat beberapa faktor yang dipaparkan, dan jika mengalami atau sedang menjalani salah satunya, maka Pernikahan kita bisa jadi sedang tidak baik-baik saja. Banyak aspek juga yang membuat saya terdiam saat membaca "5 tema FATAL di pernikahan".

Hal-hal yang saya anggap hanya common issues dalam kehidupan berumah tangga, ternyata bisa menjadi Penyakit yang menggerogoti dan menghancurkan pernikahan. Para Suami Istri harus banget sih baca ini.

Bab 02 mulai menjadi ranah "sensitif" nih, karena pembahasannya mengenai Pola asuh terhadap Anak dan dampak dari utang pengasuhan yang bisa saja saat ini sedang terjadi pada kami dalam mengasuh Anak-anak. Bab ini menjadi ajang introspeksi diri bagi kami apakah sudah menjalankan kewajiban sebagai Orangtua dengan baik, atau malah mengabaikannya dan bahkan memberikan luka pengasuhan pada Anak-anak kami? Jlebb!



Bab 03. "Apa yang kau tanam itu yang kau tuai", di Bab ini, Para Orangtua diajak untuk menyepakati Anak yang mana yang sekiranya kita mempunyai utang pengasuhan terhadapnya. Apakah selama berperan sebagai Orangtua, kita menanam benih indah atau sebaliknya? kalau sebaliknya, maka se-FATAL apakah Pernikahan kita bersama Pasangan?.

Terdapat Kuesioner yang dapat kita isi, bisa kita lingkari jawaban yang sesuai dengan kondisi kita dan (terutama) Anak saat ini.

Bab 04 isinya bikin mesem-mesem sendiri namun miris saat ngebayangin adegan demi adegan dimana saya ngomel ke Suami, seperti "kamu gak peka banget sih, Istrinya gak bisa tidur semalaman dicuekin aja, tanya kek kenapa, apa yang dipikirin? bukannya malah ditinggal tidur, bla bla bla", haha. Ya karena pada dasarnya, seperti lirik sebuah lagu, kalau wanita itu memang ingin dimengerti ya kaaan, hihi, itu benar sekaliiii.

Bab ini memberikan panduan kepada Pasangan, terutama Para Orangtua untuk KOMPAK, yang artinya adalah :
  • Kelola amarah, luruhkan mental block
  • Optimalkan kompetensi mengelola konflik
  • Mengembalikan fitrah Ayah Bunda
  • Pribadi dewasa
  • Allah, misi hidup sejati
  • Kekuatan 3 pilar cinta Pernikahan
Bab 05 di Buku MUP ini saya anggap merupakan klimaksnya karena mengandung banyak "bawang", hiksss. Setelah dibikin banyak Instrospeksi diri, di Bab ini saya membaca setiap kalimat dengan hati yang rasanya tersayat-sayat. Saya mengingat kembali omelan saya terhadap si Sulung, bahkan ada kata-kata yang sungguh tidak pantas dilontarkan apalagi ke Anak sekecil itu, rasanya saya ingin "mengutuk" diri sendiri. Namun saya tahu bahwa penyesalan tidak akan menghapus semua kejadian saat itu, dan mungkin ingatan akan kejadian hari itu akan membekas lama di ingatan Anak kami.

Tapi apapun akan saya usahakan supaya itu tidak terjadi, saya tidak ingin Anak-anak kami mempunyai ingatan negatif akan masa kecilnya yang membekas hingga mereka Dewasa. Lalu bagaimana cara saya dan Suami membayar utang pengasuhan terhadap Buah Hati kami? Beberapa caranya kami temukan di Bab ini, yaitu beberapa Program yang dapat diaplikasikan bersama.

Bab 06 - Abadi sejiwa meraih Surga. Mengulas mengenai Konsep Positive Parenting di 4 Masa Emas (Masa kehamilan, masa pengasuhan, masa pendidikan, dan masa pertemanan). Ada yang "lucu" saat baca bagian ini, karena saya kembali mengingat akar dari luka batin saya adalah dimulai pada saat awal pernikahan dan kehamilan Anak pertama. Dari sana terus muncul luka-luka lainnya yang akhirnya membuat saya memendam semuanya dan berakhir dengan Anak yang menjadi sasaran kemarahan.


Banyak terdiam di halaman-halaman Bab ini, seolah flashback terus menerus di ingatan, namun disini saya utarakan semua ke Pasangan saya, karena saya tahu bahwa dengan semakin saya diam, semakin numpuk "ransel emosi" saya, dan itu tidak akan berkesudahan. 

Banyak juga dibahas hal lainnya yang sangat krusial dan mungkin inilah antiklimaksnya, saat kami sebagai Orangtua sudah mulai cooling down, lebih stabil dan mulai dapat berbenah diri kembali, memperbaiki dan membayar utang pengasuhan terhadap Buah Hati kami. Penulis juga memberikan Program 5 Pilar Positive Parenting di Bab ini yang dapat dijadikan pegangan Para Orangtua dalam hal pengasuhan Anak.

Parenting = Mothering + Fathering. - MUP. Halaman 125- 

Bab 07 - Hati yang berkumpul kembali bahagia. Di Bab ini terdapat beberapa testimoni dari Para Peserta Workshop "Parent as Counselor & Therapist (Membayar Utang Pengasuhan)" yang bertekad untuk membayar PR utang pengasuhan mereka terhadap Anak. Banyak sekali manfaat yang diutarakan, terutama mengenai bagaimana mengelola emosi dan perasaan sebagai Orangtua.

Sepertinya saya dan Suami harus ikutan workshop serupa supaya lebih terbuka mindset positifnya, sebagai salah satu Ikhtiar menjadi Orangtua yang lebih baik lagi dalam segala aspek. Kadang, kami masih merasa "ada yang salah, ada yang kurang" dalam hal pengasuhan. Sekalipun kami termasuk orangtua yang lumayan rajin mencari ilmu Parenting lewat bacaan, namun secara prakteknya, banyak yang masih miss dan memerlukan pencerahan. Dengan mengikuti Workshop, kita juga dapat sharing dan bertukar pikiran langsung dengan Peserta lain yang kurang lebih mengalami hal yang sama.


Alasan mengapa kami membaca Trilogy Parenting

Pasangan Psikolog dan Psikoterapis Diah Mahmudah & Dandi Birdy tidak main-main dalam penulisan Trilogy Parenting ini, di "Membayar Utang Pengasuhan", Pembaca dibukakan mata bahwa masalah rumah tangga bisa terjadi ke siapapun, bahkan bagi Teh Diah dan Kang Dandi sendiri, yang juga mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh tantangan.

Membangun bisnis dari nol, berkutat dengan drama di Keluarga besarnya, hingga tantangan demi tantangan karier dan Pekerjaan. Kemudian saya langsung menodong diri saya sendiri untuk lantas "berkaca", "Han, apa kabar kamu dan Randi?".



Rumah tangga saya dan Randi memang tidaklah sempurna, sama seperti keluarga kebanyakan yang struggling dengan semua mimpi dan target hidup kami berdua. Saya dan Randi adalah dua Personal yang jauh berbeda satu sama lain. Saya yang berapi-api dengan semua mimpi yang ingin diraih, sementara Randi memeluk semua mimpinya dengan penuh ketenangan dan berprinsip "slow but sure". Saya yang tidak bisa berhenti bicara, sementara Randi yang lebih memilih sedikit bicara dan lebih banyak bertindak. Saya yang berasal dari Keluarga Sunda, sementara Randi lahir dan besar diantara lingkungan Betawinya.

Kami dua orang berbeda yang mencoba "bertumbuh" dan mendewasakan diri bersama, terutama saat hadir Buah hati yang melengkapi keluarga kami, dengan menyelaraskan visi dan misi. Namun di tengah perjalanan, banyak sekali ujian yang harus kami selesaikan bersama, gak jarang kami mempunyai arumen yang berbeda.

Karenanya, harus effort banget untuk selalu cari jalan tengah dan benang merah di setiap masalah, dan juga harus terus menyatukan chamistry supaya kami selalu kompak kedepannya dan tidak menjadikan Anak kami sebagai Korban dari kebingungan Orangtuanya ini. Salah satu caranya dengan membaca Trilogy Parenting yang sangat relate dengan perjalanan rumah tangga kami.

Dan tekad saya setelah ini adalah, "Speak up, I don't want to give up!", saya dan Suami pun ingin lebih mengenal Anak-anak kami secara mendalam supaya kami tidak "kecolongan", dan terlambat menyadari disaat semua sudah tidak dapat diperbaiki. Kami ingin sesegera mungkin membayar utang pengasuhan kami yang masih banyak PR-nya, masih banyak bolongnya yang harus segera kami tambal, supaya setidaknya, semua yang kami perjuangkan untuk Buah Hati kami, tidak sia-sia. Kami akan senantiasa belajar dan semakin mendekatkan diri kami kepada Sang Maha.

Kami sangat bersyukur diberikan titipan dua Jagoan yang cerdas dan menjadi penyejuk mata kami, semoga kami tidak menjadi Orangtua yang merugi dan dapat membimbing serta mendampingi mereka hingga ke gerbang kesuksesan (Dunia dan Akhirat). Amiiiin Ya Rabbal Aalamiiin..

Teruntuk Para Orangtua dan Calon Orangtua yang membaca tulisan ini, sempatkan membaca Trilogy Parenting ini, karena tidak hanya penuh dengan ilmu, namun juga penguatan secara spiritual, emosional, dan lainnya.

Dear Parents,
Hang on, stay sane! feel free to share your stories on comment column below!


***
Spesifikasi Buku Membayar Utang Pengasuhan

Editor : Mia Marianne
Ilustrator : Kinanti Keisha Mahrani Fauziah
Desain Cover : Julian Hasanah, Rajendra
Lay Out Designer : Omenemo
ISBN : 978-623-7306-30-6
Cetakan Pertama : Mei 2020
Jumlah Halaman : 160

Diterbitkan pertama kali
Oleh Zenawa Media Giditama
Jl. Cileungsi Jonggol No. 86, Cipeucang,
Cileungsi Bogor Jawa Barat

You Might Also Like

0 komentar

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe