Penanganan Tongue Tie Pada Bayi

11/10/2018



Warning!
Postingan kali ini mengandung pembahasan/Istilah dewasa/"vulgar". Terutama Istilah-Istilahnya Busui yess. wkwkwk

***

Di beberapa menit pertama kelahiran Bil, saat Obgyn sedang menjahit jalan lahir, sayup-sayup saya dengar dokter Anak sedang menjelaskan ke Randi kalau Bil mengalami Tongue Tie (TT), tapi tidak perlu dilakukan tindakan apapun karena menurut Beliau TT-nya Bil masih aman.

Baca Juga : Proses Kelahiran Anak Kedua - Assalamu'alaikum Bil

Dalam hati sebenarnya saya pengen banget Randi ngotot ke DSA-nya supaya ambil tindakan aja untuk menghilangkan TT itu sekalipun katanya gak perlu, tapi feeling saya sebagai Mamanya Bil justru sebaliknya. Saya merasa Bil harus di insisi, segera.

Randi akhirnya sih berhasil meyakinkan saya kalau memang Bil gak harus di insisi, dan saya pun meng-Aminkannya karena pada saat IMD pun, Bil pinter banget ngisep puting saya sampai seluruh Areolla masuk mulutnya dia. "Wah, langsung pinter nenen nih Bil, Pelekatan (latch on)-nya bagus", pikir saya saat itu.

Hari pertama di rumah
Malam di hari pertama kami pulang ke rumah setelah proses lahiran, saya dan Randi hampir gak tidur sampai pagi. Bil nangis terus padahal udah disusui, payudara saya juga kenceng dan saya yakin ASI-nya cukup buat bikin Adek kenyang.

"eh tapi kok ini kenapa Bil nangis terus? Dan lho, kok saya mengalami gejala Mastitis ya?, payudara kanan bengkak dan ada "grenjel-grenjel"nya, wah something wrong nih, Bil kayaknya gak menghisap bener waktu menyusu. Tapi kenapa? padahal udah yakin banget Latch On-nya bener"

Spontan saya ingat dengan diagnosa TT di Rumah Sakit, dan saya langsung yakin kalau itulah penyebabnya Bil cranky. Bil pasti kehausan karena gak dapat asupan ASI yang cukup.

"PASTI INI GARA-GARA TONGUE TIE-NYA NIH. PASTI". Batin saya malam itu.

:(((

Sempet capture Bil waktu nangis, sebelum Insisi
Langsung bilang ke Randi kalau kekhawatiran saya terjadi, dan saya ingin sesegera mungkin kami bawa Bil ke dokter untuk diperiksa lagi kondisi lidahnya dan kalau memang perlu dilakukan tindakan, saya inginnya segera dilakukan gak usah dilama-lamain lagi.

Apa itu Tongue Tie, Dampak dan Penanganannya

Sebenarnya saya tahu tentang Tongue Tie bukan baru-baru ini, tapi dari sejak lahiran Alfath. Dulu gak sengaja baca di salah satu artikel yang terdapat di website khusus Parenting. Walaupun Alfath gak ngalamin, tapi saat itu saya semangat untuk baca beberapa artikel sekaligus mengenai kelainan bawaan pada lidah bayi ini. Mengetahui banyak info tentang kesehatan Anak itu penting banget kan ya untuk langkah Preventif. Sebisa mungkin saya gak mau kecolongan pokoknya.

Tongue Tie (ankyloglossia) adalah kelainan kongenital di mana lidah tidak leluasa bergerak karena frenulum lidah yang terlalu pendek. Frenulum lidah adalah jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut. 
( Source : https://www.alodokter.com/tongue-tie.html )

Beberapa dampak yang bisa didapatkan si anak yang mengalami Tongue Tie

Awal saya mengetahui tentang Tongue Tie ini, saya pikir hanya akan menyebabkan pelafalan saat mengucapkan huruf tertentu jadi terganggu, ternyata dampaknya lebih dari itu, diantaranya :
  • Sulit saat melakukan Direct Breastfeeding. Bil mulai terlihat kayak kelaparan/kehausan di usianya yang keempat hari, dan itu sangat membuat saya sedih karena semalaman saya berpikir keras "Bil kenapa ya, kok nangis terus padahal udah dinenenin gak brenti-brenti?".
  • Mastitis. Saat Bil mulai terlihat kesulitan saat menyusu, saya pun merasakan sakit di bagian payudara sebelah kanan. Rasanya bengkak dan payudara terasa penuh. Ternyata itu karena Bil tidak berhasil menghisap ASI dengan baik sehingga ASI tidak dikeluarkan dalam waktu lama.
  • Puting lecet dan berdarah. Rasanya sakit banget hingga saya merasa perlu minum Paracetamol, hiks. Itu disebabkan oleh kondisi Bil yang waktu itu belum bisa menyusu dengan baik karena tongue tie-nya. Sedih sekali rasanya, bukan karena rasa sakit yang saya rasakan, tapi karena ingat Bil kesulitan menyusu seperti yang seharusnya.
  • Artikulasi kurang jelas. Ini kekhawatiran jangka panjang, karena tongue tie ini bisa membuat Anak-anak kita kesulitan mengucapkan beberapa huruf tertentu di masa depannya, atau yang sering kita kenal dengan istilah "cadel".
  • Mulut yang kurang bersih/higienis. Mungkin karena lidahnya jadi "kurang panjang" akibat tongue tie ya, karenanya lidah bisa kesulitan juga membersihkan sisa makanan dari gigi setelah makan. Hal itu ternyata bisa jadi pemicu kerusakan gigi dan gusi yang membengkak, lho.
  • Kehidupan Sosial si Anak yang bisa jadi terganggu di kemudian hari karena adanya Tongue Tie, wah jangan sampai ya.
  • DLL.

Cara menangani Tongue Tie (TT)

Pikiran singkat saya langsung tertuju ke pompa ASI di malam Bil menangis terus hingga pagi dan payudara saya terus terasa sakit dan mengeras itu. Saya kompres dan pijat lembut dulu sebelum pumping, dan Alhamdulillah ASI keluar walau saat itu baru sedikit (10-15ml), tapi sepertinya masih cukup di lambungnya Bil yang masih sangat kecil. Ohya, di awal-awal saya berikan ASIP dengan sendok, namun lama-lama saya menggunakan dot karena Bil mulai gak sabaran pengen mimik lebih banyak, dan Alhamdulillahnya lagi ASI saya semakin banyak walau tidak bisa dibilang melimpah.

Sambil ngasih ASIP, saya terus mempertimbangkan langkah untuk Insisi Tongue Tie. Saya merasa itu perlu mengingat kondisi Bil, dan saya gak mau Bil kesulitan dalam beberapa hal di kemudian hari hanya karena saya terlalu lama berpikir dan memutuskan hal yang harusnya dilakukan lebih cepat. Ada naluri Ibu yang berperan disini, tanpa bermaksud menyepelekan pendapat DSA pertamanya Bil.

Trus yaudah, saya mulai browsing dan baca beberapa artikel, lalu saya bilang ke Randi, "tolong jadwalin Bil ke DSA dong, buat insisi". Kayaknya sih Suami sempet bengong dulu dan keingetan omongan DSA yang bilang "gak perlu insisi", terlebih Mama dan Bapak saya pun terlihat sangat berat walau cuma ngebayangin cucunya digunting bagian lidahnya, dan ada darah dimana-mana, mereka berpikir Bil pasti nangis kejer karena kesakitan. Intinya mereka gak tega.

Tapi sebagai Mamanya Bil, saya justru merasa kami akan sangat tega kalau ngebiarin Bil kesulitan menyususi lebih lama lagi. Saya juga semakin lama semakin kesakitan karena ASI gak dihisap langsung oleh Bil, ternyata pumping aja bukan solusi.

Kayaknya saat itu Randi tahu kalau keinginan Istrinya ini gak bisa ditawar lagi (kalau dia "nawar" dan bujuk buat Pending pun saya gak bakal berubah pikiran sih). Jadi, mari kita kemon segera scheduling buat konsultasi dengan DSA (lagi).

"Ayo Pak Suaam, buka aplikasi Rumah Sakit Hermina segeraaaaaa"

Jujur, saya juga nahan diri dan nguatin hati untuk "tega" saat itu, demi kebaikan Bil saat ini dan di masa depan.

Pak Suami akhirnya luluh dan mulai mencari opsi DSA lain di RS. Hermina karena lebih deket dari rumah. Ketemulah kami dengan dr. Aulia disana, kebagian jadwal malam, kami pun langsung konsultasikan kondisi Bil (usia 5 hari) dan saya saat itu.

Dr. Aulia pun berpendapat bahwa insisi tidak selalu diperlukan di setiap kasus Tongue Tie, bisa dilihat dari kondisinya lebih dulu, bisa kita tunggu sekian waktu untuk melihat perkembangannya. Saya juga baru tahu kalau frenulum bisa meregang seiring bertambah usia Baby dari DSA yang sebelumnya, dan ini dipertegas oleh dr. Aulia.

Dan karena Beliau (dr. Aulia) melihat kondisi kami (Payudara kanan bengkak dan Bil cranky), akhirnya ACC untuk Insisi.

Insisi ini termasuk operasi kecil yang kalau dilakukan di Rumah Sakit akan melalui prosedur bedah, jadi kita harus registrasi segala macam dulu. Karena saya dan Randi udah gak mau ribet dengan segala macam prosedur itu, kami memutuskan untuk Insisi di Klinik aja yang prosedurnya jauh lebih sederhana dan lebih cepat.

Dijadwalkan tiga hari kemudian saat Bil berusia 8 hari, akhirnya Bil di-insisi. Hari itu cukup menegangkan untuk kami semua, dari pagi sudah persiapan, dan saya tiba-tiba mellow se-mellow-mellow-nya.

"HATI MAMA SEDIH, BIL. RASANYA BERKEPING" :(((

Seandainya boleh minta, saya ingin hari itu di-skip aja, rasanya campur aduk tapi gak mau bilang ke Randi, paling tanggapannya kayak "gitu" doang. Ah, hanya hati seorang Mama yang tahu rasanya, para Ayah gak akan ngerti, ciyuuusss.

Langsung WA Mamiyul (Nick Name) Teman seperjuangan yang juga sempat merasakan ketegangan dan kesedihan yang sama saat Second Baby-nya harus insisi di usia empat bulan. Dari penjelasan Mamiyul, saya pun mempersiapkan diri terutama mental, karena nanti setelah tindakan, saya harus siap dan sigap menggendong Bil untuk menyusuinya.

Ohya, menyusui bayi yang baru di insisi merupakan obat terbaik juga untuk recoverynya, jadi Insisi ini gak butuh obat macem-macem, cukup dinenenin.

Pasca Insisi/Frenotomy/Frenuloplasty

Istilah untuk tindakan memotong frenulum lidah ini adalah Frenotomy atau Frenuloplasty, tapi saya lebih mengenalnya dengan istilah Insisi. Mungkin artinya sama ya, nanti Googling ah apa bedanya, huhu. Singkat cerita, tindakan insisi Bil pun selesai.

Saya sudah bersiap akan drama yang akan terjadi setelah tindakan, eh tapi ternyata semua ketakutan itu gak kejadian, Alhamdulillaaah banget gak banyak darah yang keluar, dan Bil nangis cuma sebentar, langsung saya "lelepin" nenen dan Bil berhenti nangisnya.

Kejutan pertama yang saya rasakan pasca Insisi adalah, hisapan Bil yang sudah terasa benar, terbukti dari LDR (Let Down Refleks) yang terjadi saat itu, yang sebelumnya hampir tidak terjadi. Rasanya lega luar biasa, apalagi saat lihat lidahnya Bil bisa menjulur lebih panjang keluar mulutnya. Saya bahagia bukan main.

Ternyata, alasan kenapa Bil cuma berdarah sedikit, pertama karena Tongue Tie-nya dia gak terlalu parah, saya lihat frenulumnya juga sangat tipis. Kedua, karena Bil di-Insisi di usianya yang baru 8 hari atau belum usia bulanan. Jadi frenulum itu bisa menebal semakin usia si bayi membesar, dan itu juga yang menyebabkan darah akan keluar lebih banyak saat dilakukan tindakan pemotongan.

Ketiga, karena usia Bil yang masih harian itu juga lah yang bikin dia gak nangis lama-lama, ternyata bayi yang masih sangat kecil belum terlalu dapat merasakan rasa sakit. Saya merasa sudah melakukan hal yang benar dengan  mengikuti naluri saya sebagai Mamanya Bil. Saat itu saya meyakini bahwa pilihan memang berada di tangan Para Orangtua Bayi, apakah bayinya akan di insisi atau menundanya atau bahkan sama sekali gak dikasih tindakan apa-apa. Dan saya, termasuk yang memilih untuk mengambil tindakan itu.

Ohya, kemarin Bil sama sekali gak dijahit, hanya dikasih cairan antiseptik yang kemudian langsung hilang "terbasuh" ASI, dan tanpa bius ya, jadi insisi dilakukan dengan Bil dalam keadaan sadar sepenuhnya. Bil nangis saat dokter membuka mulutnya di awal sebelum tindakan, mungkin Bil merasa kurang nyaman mulutnya dibuka-buka kayak gitu makanya dia "protes", kemudian Bil nangis lagi saat dipotong frenulum lidahnya, cuma bentar.

ALHAMDULILLAAAAH

Kelegaan saya tak tergambarkan, walau beberapa hari Pasca Insisi, Bil masih menyesuaikan diri dan masih ragu-ragu buat hisap yang kuat (masih suka lepas-lepas padahal pelekatan sudah benar). Tapi pelan-pelan pasti makin pinter Breastfeeding-nya.

"Ayo semangat Biiiiil"

Sekarang Bil bisa lebih leluasa direct Breastfeeding, lidahnya semakin leluasa juga bergerak dan menjulur, dan Mama lebih nyaman lagi karena gak khawatir kena mastitis seperti kemarin-kemarin sampai ASI sempet mogok berproduksi karena gak dapat "rangsangan" dari mulut bayi langsung. Mama juga terhindar dari meriang yang bikin menggigil parah. 

Jadi Moms, sekali lagi, saat anak mempunyai Tongue Tie, pilihan ada di kita sebagai Orangtuanya  apakah akan dilakukan tindakan secepatnya ataukah menunda, atau bahkan dibiarkan saja. Seringnya yang menjadi alasan Orangtua tidak langsung memberikan tindakan adalah karena gak tega. Tapi menurut saya lebih baik "tega" saat ini untuk kebaikan di masa yang akan datang, dan bahkan dampak positifnya dapat langsung dirasakan saat itu juga sesaat setelah tindakan.

Jangan lupa konsultasikan juga dengan DSA-nya dan sesuaikan dengan sikon diri kitanya ya Moms. Semoga sharing tentang Tongue Tie-nya Bil ini bermanfaat ya, sampai juga di sharing selanjutnya.

Keep Healthy and Happy yaaa.



You Might Also Like

2 komentar

  1. Sehat sehat ya Bil, nanti main sama Aksa yaaa.

    BalasHapus
  2. Noted ini kak : Seringnya yang menjadi alasan Orangtua tidak langsung memberikan tindakan adalah karena gak tega. Tapi menurut saya lebih baik "tega" saat ini untuk kebaikan di masa yang akan datang, dan bahkan dampak positifnya dapat langsung dirasakan saat itu juga sesaat setelah tindakan.Makasih infonya.

    BalasHapus

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe