Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut Keluarga Selama Berpuasa

5/25/2018


Holaaa Happy Fams..

Gak terasa ya, minggu pertama di Bulan Ramadan tahun 2018 ini terlewati sudah. Gimana nih puasanya, masih aman atau udah bolong berapa?. Gak apa-apa bolong puasa kalau alasannya kuat apalagi perempuan ya ada siklus bulanan, asal jangan karena penyakit "M" alias males aja, haha. Yang bolong jangan lupa diganti juga nanti di bulan Syawal.

Btw, Happy Fams, ngomongin soal bolong, ada yang membuat khawatir nih apalagi di bulan Ramadan. Yaitu gigi bolong, hiiiiy ini nih hal yang malesin banget. Apalagi kalau bolongnya gak cepat-cepat dirawat dan malah didiemin hingga menyebar kemana-mana dan menimbulkan bau gak sedap di mulut. Duh, ganggu banget gak sih?

Bau mulut karena kerusakan gigi bisa mengganggu aktivitas ibadah selama berpuasa, karena itu penting banget untuk kita memperhatikan kesehatan gigi dan mulut. Nah, pas banget nih temanya yang diangkat di acara Sharing Session hari minggu kemarin yang diadakan di Kopka Cafe Cofee & You yang ada di Jl. Margonda Depok.


Acara yang bertajuk "Menjaga Kesehatan Mulut dan Gigi Selama Bulan Ramadhan" itu menghadirkan dokter gigi cantik drg. Atikah Sabrina Alyani yang sharing pengetahuan tentang bagaimana cara merawat gigi dengan baik kepada puluhan Blogger dan Non Blogger yang hadir disana.

Tema ini pas banget nih Happy Fams, jarang-jarang kan bisa dapat ilmu sekaligus konsultasi secara cuma-cuma ke dokter gigi, hihi dasar Ibu-Ibu ya, maunya serba praktis dan apalagi gratis. Tapi tenaaang, saya akan share kembali kok info dan pengetahuan yang saya dapat selama disana supaya dapat jadi pembelajaran kita bersama.

Happy Fams, terutama kaum Ibu nih, memang harus aware dengan kesehatan gigi ini, apalagi kita kan yang bertanggung jawab atas kesehatan gigi anak-anak kita juga. Khusus tentang gigi anak, saya sendiri sedang agak khawatir akan kesehatan gigi anak saya Alfath yang udah mulai ada bolong-bolong walau sedikit.


Usia Alfath saat ini 4,5 tahunan, gigi depannya mulai ada putih-putih yang sepertinya karies. Masalahnya, saya agak susah nih bujuk anaknya untuk cek ke dokter gigi anak, padahal gak pernah nakut-nakuti Alfath untuk datang ke dokter gigi, gak pernah cerita hal-hal mengerikan juga soal periksa gigi, tapi anaknya malah ogah diajak periksa.

Padahal maksudnya kan supaya cepat dikasih tindakan, karena ternyata dirawat di rumah saja gak cukup. Mungkin itu berlaku karena saya juga kurang total dalam merawat giginya Alfath, hiks.

Saya khawatir kalau di usianya yang masih kecil, Alfath sudah harus merasakan sakit gigi yang sangat ditakuti itu, duh semoga jangan ya, saya masih tetap usaha buat bujuk Alfath supaya mau periksa giginya ke dokter, wish me luck!.

Kemarin sempat dijelaskan oleh drg. Atikah bahwa karies itu dimulai dengan adanya penumpukan kotoran dari makanan sisa yang nempel di gigi. Sedikit demi sedikit, kotoran itu akan menjadi tebal dan mengancam kesehatan gusi. Gigi yang "ketempelan" kotoran terlalu banyak/tebal lama-lama akan bolong.


Kalau pengalaman saya, jadi si kotoran yang tebal itu lama-lama akan copot sendiri tapi mengangkut sebagian dari gigi, yang akhirnya bikin gigi jadi makin tipis atau bolong.

Karena itulah mengapa Scalling itu sangat dianjurkan minimaaaal banget setiap enam bulan sekali. Fungsinya untuk mengangkat dan membersihkan kotoran yang masih nempel dan gak hilang walau kita rajin gosok gigi.

Dan ngomongin soal gosok gigi, ternyata walau kita rajin gosok gigi, hasilnya belum tentu akan membuat gigi jadi bersih dan sehat lho, kalaaau kita melakukannya dengan cara yang kurang tepat.

Pelajaran ini sudah sering dibahas di sekolahan kalau kita ingat, dari zaman SD aja sudah sering praktek gosok gigi dengan cara yang benar. Tapi seringkali kita mengabaikan dan gosok gigi sesukanya. Padahal cara yang benar seperti ini nih.


Kondisi gigi juga mempengaruhi, tidak semua memiliki gigi yang rata, banyak juga yang giginya berjejal, salah satunya saya. Karena itu agak kesulitan bersihin gigi bagian dalam, makanya sangat perlu sekali melakukan scalling rutin. Ibaratnya, kalau kita susah ngerjain sendiri, serahkanlah pada ahlinya. Apalagi kan perlengkapan disana lebih lengkap.

Tentang gigi berjejal, saya sedih sih mengapa gigi saya berjejal, huhu. Usut punya usut, Mama saya bilang itu dikarekan saya yang senang mainin gigi goyang waktu saya masih kecil, gak tahu sih benar atau ngga. Yang pasti, gigi susu pada anak itu harus benar penanganannya jangan sampai salah, terlebih kalau mulai mengalami kerusakan, mending langsung konsultasi ke dokter gigi anak.

Gigi susu memang ada batas umurnya, kurang lebih di usia anak 6 tahunan, gigi susu akan digantikan dengan gigi dewasa. Nah disini inilah babak penentuan apakah gigi dewasa kita akan rata atau sebaliknya. Saat gigi dewasa mulai nongol, sebaiknya "rumah"nya sudah siap, mungkin maksudnya gigi susu sebelumnya harus tanggal dulu ya, kalau misal masih kuat dan belum ada tanda-tanda mau copot, bisa dicabut oleh dokter.

Trus gimana dong kalau gigi susu udah mulai habis di usia anak yang masih sangat dini, sedangkan gigi dewasa baru akan nongol beberapa tahun kemudian? drg. Atikah menyarankan supaya akar-akar gigi susu si kecil jangan dulu dicabut, karena khawatir akan terjadi pengecilan pada gusi.

Jangan sampe gusinya ciut sehingga gigi dewasa nantinya kebagian space yang kecil sementara gigi dewasa biasanya jauh lebih besar-besar ketimbang gigi susu. Beda orang beda bentuk biasanya. Pokoknya buah hati kita harus mulai dibiasakan ke dokter gigi dimulai saat giginya mulai tumbuh, supaya terbiasa juga ya rutin periksain gigi minimal enam bulan sekali.


Gigi saya sendiri termasuk yang besar-besar kayak jagung, padahal gigi susunya kecil-kecil banget, haha. Dulu waktu SD, saya sempat pakai behel yang kawat itu, mirip Betty La Fea rasanya (ketahuan deh angkatan berapa, oops), saya malu banget pakai itu ke sekolah, bibir rasanya maju banget. Tapi yang lebih ganggu adalah rasa sakitnya, ya ampun ngilu sampai gak bisa tidur malam beberapa hari. Akhirnya saya nyerah dan gak mau pakai behel lagi, huhu kebayang dong gimana Mama saya sampai ngomelin saya terus. Proses bikinnya lama, eh dipake cuma gitu doang. Padahal kalau dipikir sekarang, ngapain harus malu ya toh buat kesehatan juga. Dasar aja pikirannya masih sepolos itu.

Seandainya waktu bisa diputar ulang, rasanya saya gak akan lepas behelnya walau sesakit apa, demi gigi rapi. Kepikiran ingin pasang bracket dari kemarin-kemarin, tapi keburu hamil jadinya pending untuk kesekian kalinya.

Ohya, salah satu alasan saya ingin rapiin gigi berjejal saya karena ternyata gigi yang tumbuh tidak pada tempat semestinya, sangat berpengaruh terhadap artikulasi saat kita bicara. Saya termasuk yang gak cadel dalam penyebutan huruf "R", tapi beberapa kata yang ada huruf "R"nya ditengah seperti kata "Samudra/ Andri/ dll", pasti kurang jelas deh, lebih kayak penyebutan dalam bahasa Inggris jadinya. Itu tentu ganggu pekerjaan saya sebagai Dubber dimana artikulasi itu sangat penting.

Wah, panjang ya bahasan tentang kesehatan gigi ini. Hal yang krusial bagi kesehatan kita secara keseluruhan. Karena masalah akar gigi juga nih saya jadi kena sinusitis. Karena itu, periksa rutin ke dokter gigi harus diagendakan.

Tip-tip penting dari drg. Atikah yang harus diperhatikan
Ohya, drg. Atikah juga menyarankan nih kalau misal ada makanan yang nyangkut ke gigi, sebaiknya dibersihkan dengan benang gigi, jangan pakai tusuk gigi yang sering kita temukan di Restoran-restoran, karena tusuk gigi jenis itu justru bisa bikin gigi kita malah berjarak.

Kesehatan gigi, tentu akan berpengaruh signifikan terhadap kesegaran mulut. Gigi yang sehat tidak akan menyebabkan bau kurang sedap di mulut. Dan khusus saat berpuasa, kita sebaiknya menyikat gigi sesaat setelah makan sahur dan malam sebelum tidur.

Selain itu, biasakan juga gosok lidah. Jadi gak cuma gigi yang bersih, lidah juga harus bersih. Dan gunakan obat kumur maksimal 3 kali seminggu, pastikan obat kumur kita kadar alkoholnya rendah atau kalau bisa yang tidak mengandung alkohol sama sekali.

Dalam pemilihan sikat gigi, biasanya kita suka tergoda pilih sika yang bentuknya bergerigi gitu, padahal menurut drg. Atikah kita cukup pakai sikat gigi yang ujung sikatnya datar aja atau bentuk standar, itu sudah cukup, yang penting cara menyikat giginya yang harus benar.




Rezeki Ramadan
Sebutlah ini rezeki Ramadan, udah dapat ilmu bermanfaat tentang kesehatan gigi dan mulut, acaranya di tempat asik pula yang makanannya enak-enak dan gak pake mahal, udah gitu pulangnya bawa bingkisan cantik yang isinya Ibu-ibu pasti suka banget kayak gini. Alhamdulillaaah.



Bingkisan dari Claris ini bermanfaat sekali, saya suka koleksi lunch box seperti ini terutama setelah menikah. Pasti digunakan untuk bekal makan siang suami dan makanan kalau sedang bepergian. Begitupun dengan gift dari Ngejamu ini, bisa saya gunakan untuk menjaga kesehatan rambut saya yang mudah rontok, juga untuk melembabkan kulit. Bahan dasarnya alami yaitu lidah buaya yang seperti kita tahu manfaatnya banyak banget kan ya. Wah, had so much fun and more knowledge. Tungguin sharing saya selanjutnya di Blog ini ya.

Bye Happt Fams, semoga keluarga kita bahagia selaluuuuuu..

You Might Also Like

0 komentar

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe