Menjadi Pasangan Yang Bertahan

1/10/2018


Kami.. Hani dan Randi, menjadi suami istri sudah lima tahun ini.

Lima tahun yang banyak banget pelajaran berharganya tentang pernikahan dan hidup berumah tangga. Kepikiran buat selesein tulisan ini setelah beberapa kali dapat pertanyaan dari teman-teman tentang "kebahagiaan rumah tangga saya dan Randi", sebagian menanyakan "apa rahasianya?".

Haha..

Cuma bisa senyam senyum waktu baca chat dan pertanyaan kayak gitu, senyum yang seandainya bisa membuka flashback kejadian hari demi hari dari awal janji suci itu terucap, hingga detik ini.

Iya, banyak hal yang terjadi, serangkaian duka, banjir air mata, saya yang suka gemes kalau Randi banyak diam disaat saya butuh masukan secara verbal, saya yang sebulan sekali (PMS) kambuh emosiannya, dan banyak banget hal lainnya yang kayaknya itu semakin nunjukin kalau sesungguhnya kami bukanlah pasangan sempurna. SAMA SEKALI BUKAN.

Pernikahan, adalah hal yang sempat bikin saya paranoid, sempat merasa bahwa saya gak akan sanggup hidup terikat seumur hidup dengan kewajiban-kewajiban sebagai "leher" dalam sebuah rumah tangga. Saya, yang punya banyak mimpi, saya yang gak suka dibentak, saya yang keras kepala, dan saya dengan kekurangan dan kelemahan itu, merasa pernikahan merupakan sesuatu yang menakutkan.

Tahun pertama pernikahan, semuanya berjalan sangat indah, mulus, saya yakin telah membuat keputusan yang tepat. Hingga kemudian ujian demi ujian menghampiri. Saya sering nangis, bukan karena perlakuan kasar Randi, BIG NO, Randi adalah sosok yang hampir gak bisa marah apalagi untuk hal yang menurut dia terlalu sia-sia kalau harus diwarnai dengan kemarahan, apalagi dengan kasar, tapi hidup membolak balik keadaan kami hingga terseret ke jurang dan membuat kami tertatih.

Saya mulai sering merasa sepi karena jauh dari keluarga, saya merasa jauh dari pertolongan orang-orang yang peduli. Merasa sangat miskin ilmu, dan bingung harus ngapain. Akhirnya cuma bisa nangis, kadang nanya ke suami, "kita kenapa? kok gini sih? aku kesepian, Keluargaku manaa?". Dan kalimat-kalimat bodoh yang meminta perpisahan pun terlontar.

Alhamdulillahnyaaa, Randi adalah orang yang bisa jadi "air" setiap kali saya terbakar emosi, yang ketika saya merasa "capek" dan merasa "bukan ini yang saya mau", dia tetap pegang tangan saya dan menguatkan, meyakinkan saya bahwa inilah ujian dari Allah untuk kami lewati, dan bodoh kalau kami menyerah disini. Terlepas dari itu semua, dia kembali mengingatkan bahwa kami telah dipercayai titipan berharga dari Sang Maha Pencipta, makhluk kecil bernama Alfath. Saya kembali menangis, menyesali, membodoh-bodohi diri saya yang lemah.

Randi selalu ngingetin saya supaya gak usah kepikiran omongan-omongan orang yang gak ngenakin, cuekin aja, dan BUKTIKAN kalau kita gak kayak yang mereka bilang atau pikir, dan kalaupun memang iya, trus kenapa? urusan kami bukanlah urusan mereka yang hanya bisa komen tanpa rasa tanggung jawab, iya.. mereka yang setelah komen trus ilang, cuma bisanya nyinyir dan ngomong hal yang bahkan mereka gak ngerti.

Berkali-kali Randi bilang, "Gak usah dipikirin, cuekin dan kita BUKTIIN aja". Oke NOTED!

Hari-hari kami penuh warna, penuh drama, penuh kisah yang seandainya saya tulis, akan saya baca berulang-ulang sambil tertawa dan geleng kepala.

Kami pernah tinggal di kost'an di dua bulan pertama pernikahan, kami pernah tercekik Credit Card yang sebenernya niat awal waktu bikin CC tuh buat antisipasi dana kesehatan kalau-kalau ada kejadian urgent. Kami pernah kena tipu teman sendiri yang menjanjikan bisnis bersama, kami pernah kemana-mana membawa Alfath kehujanan kemudian kepanasan di hari yang sama, kami pernah pamit ke Omanya Alfath untuk membeli Popok padahal uang di kantong tidak mencukupi, tapi akhirnya hari itu bisa terlewati juga, tentu dengan campur tangan yang diAtas hari itu kami pulang dengan membawa sekantong besar Popok. Dan banyak "keajaiban-keajaiban" lainnya.

Salah satu titik terberat adalah ketika saya terjebak dengan salah satu jenis obat untuk alergi, hingga saya mengalami moonface dan mempunyai "punuk unta" dan bentuk badan yang "mengerikan" karena saya tidak pernah segemuk dan sebulat itu bahkan ketika saya hamil. Di saat yang sama, saya harus menyusui Alfath. Alhamdulillah, itu pun akhirnya terlewati.


Titik terberat lainnya, beberapa bulan sebelum menikah, saya mengalami kehilangan yang sangat dalam. Uwa kesayangan saya meninggal, "Uwa" itu adalah sebutan untuk Kakak dari Bapak/Mama saya, yang juga telah saya anggap sebagai Bapak saya sendiri. Kehilangan yang hingga saat ini, masih saya anggap sebagai mimpi. Syukurlah, ada suami menguatkan, walau sampai detik ini saya masih merasa itu adalah mimpi, saya masih berharap Uwa saya tersebut masih ada, hiks.

Semoga Uwa tenang "disana". Amin.

Puluhan malam saya lewati dengan pertanyaan, "mengapa aku selemah ini?". Randi bilang, "kita sepertinya kurang dekat dengan yang di Atas".

JLEB!

Kerikil demi Kerikil, mengiringi langkah kami yang tertatih, hingga kami mulai merangkak pasti dan berdiri tegak. Kami berjuang, menyatukan kekuatan demi masa depan yang kami ingin capai bersama, bukan sendiri-sendiri.

Kami memutuskan menjadi pasangan yang bertahan. Kami memutuskan untuk menjauhi kata "cerai". Kami memutuskan untuk lebih giat belajar dan saling memahami lebih dalam serta menerima perbedaan. Kami memutuskan meredam ego karena saat ini bukan lagi tentang kami, tapi ada anak yang harus di jadikan pertimbangan paling penting dalam setiap keputusan yang diambil. Kami memutuskan untuk lebih mendalami ilmu Agama dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Kami memutuskan untuk bahagia.

Bahagia versi kami.

Jawaban untuk teman-teman yang bertanya apa rahasia kebahagiaan kami, sebenarnya tidak saya miliki, saya hanya bisa meyakini bahwa itu merupakan "campur tangan Tuhan".

Karena kenyataannya kami tidak sebahagia yang kalian pikir. Gak seperti foto-foto kami yang kalian lihat di IG yang rata-rata semuanya lagi nyengir di foto itu. 

Kami bukan pasangan sempurna yang tanpa masalah, tapi kami memutuskan untuk tidak menunjukkan "air mata" kepada dunia, gak mungkin juga saya posting foto waktu lagi nangis karena abis ngomel-ngomel misalnya, semua yang sedih-sedih kami usahakan simpen serapat mungkin.

Kami bukan pasangan yang banyak harta, tapi kami memutuskan untuk tidak menyerah pada keadaan karena masih sangat banyak Saudara diluar sana yang lebih kekurangan dan mereka tidak mengeluh. Randi juga selalu support saya untuk membantu secara finansial anak-anak dan cucu-cucunya Uwa saya yang selama ini jagain Alfath selama saya dan Randi kerja.

Kami bukan pasangan yang selalu mendapatkan apa yang kami ingin, tapi kami berusaha menjadi pribadi yang selalu mensyukuri nikmat sekecil apapun, setidaknya Randi selalu mengingatkan saya tentang itu.

Randi selalu mengingatkan saya yang keras kepala ini.

Kami bukan pasangan yang selamanya sabar, tapi kami memutuskan untuk gantian saling menyabarkan dan saling menepuk pundak supaya amarah luruh dan hilang. Kami bukan pasangan ahli Agama, tapi kami mencoba terus belajar dan mengaplikasikannya di keseharian. Kami bukan orangtua terbaik, tapi kami fokus belajar  di "Universitas kehidupan" dan berusaha melakukan yang terbaik bagi masa depan buah hati.

Februari tahun 2018 ini, merupakan tahun kelima pernikahan yang belumlah apa-apa. Lima tahun pertama yang akhirnya terlewati. YESS, KAMI LULUS! Tapi harus bersiap menghadapi ujian-ujian level berikutnya yang bisa jadi lebih dahsyat, dan kami harus bersiap untuk itu.

Randi bilang, "kita gak boleh nyerah, orang-orang di masa lalu itu cuma kenangan, sementara kita harus terus maju kedepan dengan orang-orang yang ada di sekitar kita yang sayang dan peduli ke kita".

Kami hanya satu dari jutaan pasangan baru yang juga tengah berjuang menjadikan pernikahan sebagai "Surga". Dengan terus menjaga kesetiaan, jangan biarkan ada celah untuk orang ketiga apalagi Pelakor yess!. Jaga juga kejujuran, karena sekali bohong, maka kebohongan lainnya akan mengikuti.

Stop mengucap "cerai" disaat kita sebenarnya masih mampu bertahan dan berjuang. Perbaiki keadaan dan bergandengan tanganlah. Tumbuhkan rasa cinta dengan selalu bersikap penuh kasih. Walaupun, saya dan Randi memahami mereka para Pasangan yang akhirnya memutuskan untuk berpisah pasti karena alasan-alasan yang reasonable dan sudah dipikirkan dengan matang. Karena bahagia, dan rasa sakit, hanya kita yang tahu, kita yang rasa.

Dan selama semua masih bisa diperbaiki, dan kitanya juga MAU membuat keadaan jadi membaik, maka ayoooo.. terus berjuang selama asa masih tersisa.

Kita bisa!.
Mari menjadi pasangan yang bertahan!.

With Love,
Hani & Randi

Doc : Pri.

You Might Also Like

14 komentar

  1. Sukaaa bacanya... :) . Usia pernikahan kita ga terlalu jauh beda mba :) . Akupun msh berusaha utk slalu bisa mempertahankan pernikahan ini. Ga pgn mengumbar masalah keluarga di medsos, dan Berusaha jaga aib pasangan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu kekuatan hati yang luar biasa kan ya, huhu.

      Bismillah niatnya untuk Ibadah, Amiiiin

      Hapus
  2. Semoga terus samara dan langgeng ya kalian berdua..bahagia selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin Ya Rabb, makasih Mba untuk do'anya :*

      Hapus
  3. Awal menikah memang istri sering merasa kesepian ya karena suami blm cakap menjadi teman bicara. Aku jg ngerasain itu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya yaaa, mungkin karena itu, takut salah ngucap kali ya :D

      Hapus
  4. Menjalin pernikahan itu emang tak mudah ya mba. Komunikasi bagi saya memang harus dilakukan. Supaya tak merasa jauh dari keluarga, aku masih tergabung d grup wa keluarga dan masih sellau tlpon tante2 atau om2 :)

    BalasHapus
  5. Semoga selalu bahagia selamanya. Untuk bahagia terkadang kita butuh hati yg besar untuk saling memaafkan dan memberikan sabar yg lebih dan lebih supaya rumah tangga tetap abadi

    BalasHapus
  6. Iya sama teh, awak nikah banyak juga episode pait, apalagi aku nikah sambil kuliah. Banyak ujian banget, alhamdulillah terlewati sampai skrg usia pernikahan mau ke-8.

    BalasHapus
  7. Ada aja keajaiban-keajaiban yang gak kita duga ya mba Han.. :) Dan bener banget, harus sama-sama saling menguatkan dan menyabarkan.. Aku kadang emosi harus ditenangkan, pun sebaliknya.. Seru ya mba berumah tangga.. :D

    BalasHapus
  8. Samara selalu yaaa hingga beranak cucu

    BalasHapus
  9. Terharu baca tulisan mbak Hani tentang pernikahannya. Harus menjaga komunikasi dan ga mudah mengucapkan kata 'cerai' ya. Zaman sekarang kok kata tersebut seperti kacang goreng yang mestinya ga boleh sembarangan kan ya mbak. Semoga samara selamanya ��

    BalasHapus
  10. rumput tetangga memang lebih hijua, karna kita tidak tau apa yang terjadi dibalik foto yang bahagia. banyak belajar dari postingan diatas

    BalasHapus
  11. So sweet banget mbak Hani. Semoga langgeng terus ya. Aku setuju mbak, dalam pernikahan tidak usah pikirin omongan orang lain. Bukan mereka yang menjalankan pernikahan ini (pengalaman pribadi hehe).

    BalasHapus

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe