Alfath, Waktu Kita Memang Sedikit, Tapi Cinta Mama Sangat Banyak

12/31/2017


"Kak, Mama memang bukan Mama yang terhebat di dunia ini, dengan semua keterbatasan Mama, kesehatan Mama yang rentan, kesibukan setelah Mama kembali bekerja Kantoran, Mama semakin sedikit memberikan waktu buat Kakak Alfath. Tapi waktu yang sedikit itu, Mama usahakan supaya berkualitas dan Kakak bahagia. Dari waktu yang sedikit itu, semoga Kakak bisa merasakan betapa banyak dan besarnya cinta Mama, dan juga Papa".

Setiap kali Alfath mulai terlelap di malam hari, kalimat panjang diatas selalu saya ucap walau dalam hati. Saya tidak mau Alfath mendengarnya, karena di setiap kalimat terdapat rasa sakit yang sangat dalam. Batin saya menjerit, pedih, dan saya tahu tidak ada obat yang dapat menyembuhkan rasa sakit seperti itu. Sakitnya batin seorang Ibu yang mencintai anaknya.

Dan merasa bersalah.

Begitu banyak rasa bersalah yang semakin lama seperti lubang yang semakin dalam di hati saya. Alfath adalah anak saya satu-satunya, di usianya yang sudah hampir empat tahun, rasanya sudah pantas dia mendapatkan seorang adik. Saya dan suami sejujurnya tidak keberatan kalau saya hamil lagi, tapi ada beberapa hal yang akhirnya membuat kami berpikir ulang dan menunda kehamilan, salah satunya adalah kesehatan saya.

Bahagia terus ya Kaak, ceria terus.
Saat ini, kasih sayang saya dan suami seutuhnya tercurah kepada Alfath, bujang kecil yang sudah mulai aktif berkomunikasi dan bergerak gak ada capeknya. Kebahagiaan Alfath adalah kebahagiaan kami, begitupun sebaliknya. Alfath yang selalu kami panggil dengan sebutan "Kakak Alfath", bahkan saat dia masih dalam perut.

Alfath sudah mempunyai selera sendiri dari mulai makanan yang ingin dia makan, baju yang ingin dia pakai, hingga mainan yang ingin dia punya. Selama positif, apa yang Alfath minta, sebisa mungkin kami penuhi, namun juga tidak terlalu memanjakannya, ada saatnya Alfath harus menahan diri untuk tidak mendapatkan apa yang dia inginkan saat itu juga, walau yaaa pasti ada nangisnya ya.

Hanya saja, kami tahu betul, semua itu tidak akan pernah mengisi "lubang" lainnya yang ada di hati Alfath, yaitu kekosongan saat dia harus kami tinggal bekerja, sementara kami tahu Alfath sangat menginginkan kami selalu ada didekatnya, setiap saat, terutama saya, Mamanya.

Terobati Oleh Waktu
Semakin lama, Alfath semakin terbiasa kami tinggal, jiwa mandiri mulai terbentuk walau tidak sematang kemandirian orang dewasa. Khasnya anak-anak, seringkali suasana hatinya berubah, tiba-tiba saat saya akan berangkat kerja, Alfath merengek minta gendong sambil bilang, "Mama jangan kerja, Mama kerjanya di rumah aja, Kakak gak akan ganggu Mama kok".

Hancur rasanya.

Tapi tidak jarang juga, Alfath semangat menunggu Driver ojek online yang saya pesan, dia berlari ke rumah untuk memberi tahu bahwa ojek onlinenya sudah ada. Lalu Alfath membawa tas bekal makan siang saya yang berwarna ungu, kami saling cium satu sama lain berkali-kali, hingga saatnya saya berangkat dan Alfath melambaikan tangan sambil bilang "dadaaah, hati-hati ya Mah".

"Anak Mama, senyum doong, jangan sediiiih"
Oh Alfath, buah hati Mama. Percayalah, semua yang Mama dan Papa lakukan saat ini, bukan karena cinta kami sedikit, bukan karena kami tega, semua demi alasan-alasan yang suatu saat akan Alfath mengerti. Semoga.

Tunggu Mama ya Kak, tunggu Mama lepasin seragam kebesaran ini, dan kita akan lebih sering sama-sama lagi, seperti dulu. Insya Allah, secepatnya.

Walau Mama Kerja, Tapi Kita Akan Selalu Dekat, Kak.
Alfath lahir dengan perjuangan luar biasa. Saya yang sempat mengalami kebingungan pasca menikah sangat bahagia dengan kehamilan saya, namun di waktu yang sama, saya ketakutan, sangat takut. Pernikahan yang saya jalani tidak seperti pernikahan yang sempat saya bayangkan sebelumnya, jauh dari orangtua dan keluarga memberikan dampak kepada psikis saya yang sempat down saat hamil. Seringkali saya merasa sendiri secara psikis dan juga secara fisik.

Tapi semua ketakutan berganti kebahagiaan waktu Alfath lahir dengan sehat dan tidak kekurangan suatu apapun. Alfath hadir ngasih senyumannya yang paling manis. Seketika saya berjanji dalam hati, akan melindunginya dari rasa sakit di dunia ini.

Alfath sesaat dia lahir
Sejak saat itu, saya semakin menyadari bahwa saya dan Alfath adalah "satu", apapun akan saya lakukan demi kebaikannya. Walau kadang, ada situasi dan kondisi yang "memaksa" saya melakukan hal yang sejujurnya berat untuk saya.

Saat saya meninggalkan anak di rumah, hati saya selalu tertinggal disana, di dekat anak saya. Setiap saat selalu terbersit tanya, apa yang sedang dia lakukan, apa yang dia makan, sebanyak apa dia makan, pup nya lancar atau tidak, tidur siang jam berapa, dan banyak lagi hal lainnya. Saya selalu usahakan menelpon kerumah untuk memantau itu semua.

Terlebih karena Alfath pernah sangat sensitif dengan dairy food. Dari awal lahir, Alfath alergi susu sapi dan turunannya, dan itu membuat saya dan keluarga harus pinter-pinter menyiapkan menu makan dan cemilan Alfath, karena kalau alerginya kambuh, Alfath akan batuk pilek tanpa demam. Alhamdulillah setelah perjalanan kurang lebih tiga tahun, Alfath sudah boleh makan apa saja, lebih beragam lagi menu makan dan minumannya dia.

Alfath (usia 5 bulan) diuap saat Batuk Pilek
Biasanya saya selalu mendapatkan jawaban yang menenangkan dari Eyang (Uwa saya, yang menjaga Alfath selama saya dan suami kerja)nya Alfath kalau saya menelpon ke rumah. Tapi kekhawatiran tidak bisa saya sembunyikan kalau Alfath sedang demam.

Selama ini Alfath termasuk anak yang jarang demam, sempat sih dia demam yang dikarenakan alergi yang berkelanjutam, itupun sangat jarang, apalagi karena Alfath baru berhasil disapih saat usianya menjelang tiga tahun, dan selama itu pula saya selalu menjaga asupan yang saya konsumsi karena akan berpengaruh terhadap ASI-nya Alfath.

Tapi ada kejadian sekitar dua tahun ke belakang, dan itu sangat membekas di ingatan saya.

Malam yang seperti mimpi buruk
Malam itu adalah salah satu malam yang tidak akan pernah saya lupakan, Alfath demam sementara saya masih di Kantor. Saat saya dalam perjalanan pulang ke rumah, saya telpon suami saya untuk menanyakan bagaimana demamnya Alfath. Suami saya menjawab bahwa Alfath demamnya agak naik tapi masih "aman".

"aman", katanya. Tapi perasaan saya gak enak.

Batin saya berkata lain, saya merasakan hal sebaliknya. Dan ternyata itu beralasan. Sesampainya di rumah, saya langsung gendong dan memeluk Alfath dan seketika itu juga saya merasakan hawa panas yang keluar dari tubuhnya.

Ya ampun panas banget!.

Sedih melihat Alfath murung karena sakit
Perasaan saya langsung gak karuan saat termometer itu diselipkan ke bagian dalam ketiaknya Alfath, panasnya Alfath mencapai 40 decel. Antara sedih, kaget, dan marah ke Suami karena gak ngabarin saya lebih cepat tentang kondisi Alfath, saya mencoba untuk tetap tenang.

Malam itu diluar hujan lebat, saya persiapkan Alfath untuk segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Sesampainya di RS, kami tidak mendapatkan jadwal dokter di Poli Eksekutif, akhirnya kami bergegas daftar dan ambil nomor antrian di kelas reguler, dengan antrian yang panjang, kami tetap mencoba tenang, sabar dam terus berdo'a sambil terus membuat Alfath nyaman di gendongan dan mendo'akannya.

Pertolongan Tuhan melalui tangan-tangan dokter dan Suster malam itu sangat kami rasakan, karena Suster yang memeriksa suhu Alfath menyadari betapa panasnya Alfath, dia kemudian langsung menghubungi dokter di dalam ruangan dan gak lama Suster mendekati kami dan meminta kami masuk ke ruangan Perawat karena Alfath harus segera diberikan obat yang dimasukkan melalui (ma'af) anusnya dan juga dikompres seluruh badan.

Alfath nangis dan menjerit-jerit karena ketakutan, tapi syukurlah itu tidak lama. Kegesitan para Suster memberikan tindakan sesegera mungkin adalah anugerah luar biasa bagi saya yang hatinya hancur melihat anak dengan kondisi seperti itu, saya sangat takut Alfath sampai kejang dan kenapa-napa. Alhamdulillah ketakutan itu berakhir.

Masuk ke ruang dokter, suhu tubuh Alfath sudah membaik, tidak ada hal lain yang saya harapkan malam itu selain melihat Alfath segera pulih. Dokter memeriksa, memberikan obat dan vitamin, dan seperti biasa saya selalu memanfaatkan kunjungan ke dokter untuk berkonsultasi, menanyakan apapun yang berhubungan dengan kesehatan Alfath.

Alhamdulillah beberapa hari setelah itu, Alfath sudah normal lagi suhu tubuhnya, nafsu makannya pun berangsur membaik.

Badai Pasti Berlalu
Malam itu, saat panik melanda, Suami saya menjelaskan kalau dia memang sengaja gak ngasih tahu saya tentang kondisi Alfath yang sebenarnya, alasannya karena malam itu saya sedang perjalanan pulang dari Kantor (Jakarta Barat) ke rumah (Depok). Menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Suami saya tidak mau saya kepikiran di jalan apalagi karena saya sendirian. Intinya sih supaya saya gak panik dan kalut selama perjalanan pulang.

Huhu, rasanya gak enak banget, saya sudah langsung marah-marah aja. Tapi kejadian malam itu benar-benar membuat saya lebih waspada. Saya gak mau kejadian itu terulang, saya gak mau "kecolongan" lagi. Saya sempat sharing ke Sahabat-Sahabat saya yang juga seorang Ibu dan lebih berpengalaman dalam hal merawat anak demam.

Dari hasil sharing itulah, saya baru sadar bahwa ada yang kurang dan tidak saya siapkan di rumah sebagai langkah preventif. Saya tidak pernah sediakan Paracetamol, karena memang ada "ego" dari diri saya yang gak mau ngasih Alfath obat di usianya yang bahkan belum dua tahun. Pemikiran yang sangat-sangat salah menurut saya.



Sahabat saya menyarankan saya untuk beli dan stok Tempra di rumah, kalau-kalau Alfath demam lagi. Tapi sebelum saya membelinya, dokter sudah meresepkan Tempra Syrup untuk Alfath usia 1 - 6 tahun, Alhamdulillaah jadi langsung ada stok. Semenjak saat itu, Tempra adalah teman baru Alfath untuk menjaganya saat dia demam.

Alfath termasuk yang jarang demam sebenarnya, tapi kejadian Alfath mengalami demam tinggi itu membuat saya semakin waspada. Menyediakan Tempra di rumah adalah langkah tepat untuk kami sekeluarga, terutama disaat tangan dan raga saya sebagai Mamanya Alfath jauh di Kantor sementara dia di rumah. Banyak pikiran jelek di otak saya, tapi Tempra setidaknya membuat saya lebih nyaman dan lebih tenang.

Tempra juga diperlukan untuk antisipasi anak demam pasca Imunisasi
Tempra adalah sahabat Alfath, dan Keluarga
Akhir Februari 2018 nanti, usia Alfath 4 tahun, karena itu dokter memberikan Tempra Syrup rasa anggur yang untuk anak usia 1 – 6 tahun. Saat ini, saya masih memberikan Alfath Tempra dengan dosis 5ml setiap kali dia demam. Saya pantau demamnya Alfath kurang lebih empat jam sekali, cek dengan thermometer, kalau memang masih perlu (demamnya belum turun secara signifikan), saya akan memberikan Tempra lagi sebanyak 5ml.




Saya percaya Tempra Syrup dengan kandungan paracetamolnya, dapat meredakan demam dan bahkan rasa nyeri yang mungkin Alfath rasakan tapi dia susah buat ngungkapinnya. Ohya, Tempra juga bisa lho diberikan kalau anak kita demam setelah imunisasi, selain itu Tempra Syrup aman di lambung, larut 100% jadi gak perlu dikocok, dan yang paling membuat saya merasa aman adalah gelas takarnya yang dapat memastikan dosisnya tepat sesuai usia, sehingga saya gak perlu khawatir tentang over dosis atau sebaliknya.

Untuk Alfath (usia < 4 th) cukup 5 ml saja,

Kak, percayalah cinta Mama sangat besar dan tak terukur kadarnya
"Kak Alfath, Mama dan Papa memang gak selalu ada di dekat Kakak, tapi cinta kami akan membuat kita selalu dekat. Mainlah yang banyak, bahagialah yang banyak, eksplor sekitar dengan kepolosan dan rasa ingin tahu yang semakin lama semakin besar. Mama Papa akan selalu ada, kebahagiaan kakak adalah yang utama bagi kami.

Kak, hati Mama juga hancur saat Kakak bilang kalau Kakak ingin Mama kerja di rumah aja, Mama banyak main sama Kakak aja jangan ke Kantor. Air mata Mama sudah sulit keluar karena dalam hati, Mama menjerit Kak menahan gejolak batin.

Do'akan Mama selalu ya.

Tempra Syrup, Menjauhkan Alfath yang sedang aktif-aktifnya dari demam
Dan Kakak jangan khawatir, selama Mama kerja, Mama sediakan Tempra untuk memastikan kejadian malam itu tidak terulang. Semoga Tempra senantiasa menjaga anak Mama dari demam yang membahayakan. Tempra adalah salah satu jembatan yang akan menyampaikan rasa cinta Mama ke Kakak Alfath.

Dari Kakak usia hampir dua tahun, hingga sekarang mau empat tahun, Tempra adalah sahabat Kakak Alfath, yang jagain Kakak saat demam, saat Mama gak ada di rumah. Kehangatan cinta Tempra semoga bisa Kakak rasakan sebagai kehangatan cintanya Mama. Ingat ya Kak, Mama dan Kakak adalah satu, selamanya akan seperti itu. Saat kakak merasa sepi, ingatlah bahwa dimanapun Mama berada, hati kita sangat dekat. SANGAT".

Alfath & Tempra = Sahabat sejati

Sedikit Waktu Namun Berkualitas
Kakak Alfath, anak Mama yang baik, makasih ya sudah menjadi anak yang cerdas selama ini, banyak peran penting yang sudah kakak lakukan di usia kakak yang masih sekecil ini. Mama gak tahu caranya berterima kasih, tapi Mama bahagia kakak selalu nunggu dan nyambut Mama Papa di rumah saat malam. Dan saat menjelang tidur, Kakak selalu ingin bercerita panjang lebar, secapek apapun Mama dan Papa, tapi kita selalu tidur dengan ngobrol bertiga terlebih dulu. Ngobrol tentang hari itu, tentang apa yang Kakak mau, dan tentang imajinasi Kakak yang makin penuh warna.

Beberapa hal lain yang saya lakukan untuk tetap menjaga kedekatan (bonding) antara saya dan Alfath adalah mengajaknya ke Kantor dengan beberapa pertimbangan, diantaranya saya harus memastikan Alfath dalam kondisi yang sehat, dan kerjaan saya di Kantor sedang sedikit. Alhamdulillah tidak larangan untuk membawa anak di Kantor saya.

Alfath happy kalau diajak ke Kantor Mama
Saat weekend kami akan menghabiskan waktu berkualitas kami ke tempat-tempat yang Alfath suka, biasanya kami wisata edukatif atau ke Mall dan bermain di pusat permainan. Tapi sering juga kami menghabiskan waktu hanya di rumah saja.

Kadang, Papanya Alfath masih harus kerja di akhir pekan, Alfath makin besar makin mengerti cara untuk menunjukkan kekecewaan dan kemarahannya, karena itu saya selalu ajak dia juga untuk ikut Papanya kerja kalau durasi kerjanya hanya sebentar, tapi supaya gak ganggu kerjaan Papanya, saya dan Alfath menunggu di Mobil, atau jalan-jalan di sekitar.

Alfath & Mama nungguin Papa yang masih kerja
Semoga waktu kebersamaan yang sedikit itu selalu berkualitas dan menjadikan anak Mama Papa satu-satunya menjadi anak laki-laki yang kuat secara mental. Mama Papa juga akan selalu berusaha untuk menjaga Kakak Alfath supaya selalu terbebas dari demam dan senantiasa sehat.

Mama Papa sayang Kakak Alfath. Sangat!.
Terima kasih Tempra Syrup, selalu menjadi jembatan yang menyampaikan cinta Mama ke Anak Mama, Alfath.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

You Might Also Like

44 komentar

  1. semakin besar alfath pasti semakin bangga liat karir mamanya. yang penting menjaga kualitas saat bersama. sehat terus yaa..!! :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin Ya Rabb, makasih Siiist. Sehat2 juga yaa :*

      Hapus
  2. Ya ampunn.. saya sampai deg-degan baca ceritanya mbak :D
    Saya juga selalu sedia tempra di rumah.. jaga-jaga kondisi seperti itu..
    Salam kenal ya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mbaaa, wah setuju, berjaga-jaga itu penting ya Mba. Salam kenal kembaliiii :)

      Hapus
  3. Akupun slalu nyediain obat demam anak begini mba. Itu krn kedua anakku prnh step ato kejang pas panas. Si adek malah kejang pas panasnya cm 38 dercel. Sjk itulah, ga bisa ga, aku memang hrs sedia obat demam yg oral maupun yg dimasukin ke dubur. Pas pertama ngeliat anak step itu, kyk ilang separuh nyawa mba :( .. Ga pengeeeen banget itu kejadian lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ampun Mba, syukurlah semua udah terlewati ya. Insya Allah gak akan terulang, Amiin.

      Penting banget memang sedia payung sebelum hujan ya.

      Hapus
  4. iya walau bekerja bukan berarti kita gak bisa dekat dg anak ya,anak2ku dekat banget dg aku walau aku bekerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mbaaa, dan aku juga selalu yakin bahwa bonding anak dan orangtua akan tetap terjaga dengan baik dengan berbagai cara yang bisa kita lakukan, selain itu ikatan batin antar Ibu dan anak juga akan selalu ada :)

      Hapus
  5. cinta mama nggak abis-abis, ada banyak, selamanya.... salam kenal mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Rahma. Yess mba setuju bangeeet :))

      Hapus
  6. Sedih yaa kalo anak sakit, karena kadang belum bisa sampaikan rasa sakitnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbaa, kadang walau sakit kayak gak dirasa ya :(

      Hapus
  7. Alfath anak pinterrr, ganteng lagi. Sama anakku juga kadang demam dan selalu sedia parset di rumah, salah satunya merk tempra juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Tante Tety, Amiiiin..

      Adanya Tempra di rumah ngasih ketenangan tersendiri ya :)

      Hapus
  8. Bunda Hani nulisnya mengharu biru.. huhuhu.. emang yaa perasaan bersalah tuh makin dalam disaat melihat anak2 tertidur. Cerita Mba Hani mengingatkan saya saat meninggalka Abang Fi kerja. Memang dia jadi anak mandiri. Tapi tetap saya merasa bersalah meninggalkan dia di rumah dengan ART. Hiks.. dilema ibu bekerja saat itu.

    BalasHapus
  9. Gantengnya Alfath. Semoga mamanya selalu sehat ya bisa sering temanin main.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin, makasih Mba Leyla untuk do'anyaaa :*

      Hapus
  10. Waaah Alfath ceria banget ya anaknyaaaa.... apalagi kalau dekat mamanya �� Mama bahagia kalau anak sehat ya. Pas lg demam/ panas hiks sedih deh. Untung ada obat andalan keluarga untuk mengatasi panas...Tempra rasa anggur dan jeruk tuh favorit anak2ku. Mama jd ga terlalu khawatir. In sya allah lekas sembuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbaaa, rasanya disukai anak2 termasuk Alfath juga nih :)

      Hapus
  11. ternyata tempra masih ada sampai sekarang yaa :) dulu waktu masih kecil, ibu saya sering kasih saya tempra :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah jadi obat andalan secara turun menurun ya, kereeen

      Hapus
  12. Perasaan bersalah memang sering menghinggapi orang tua khususnya ibu. Merasa kurang maksimal dlm mengasuh, kurang perhatian, kurang sabar. Tapi seperti kata orang, ibu juga manusia, jadi wajar jika tak sempurna. Yang penting cinta ibu jangan pernah pudar. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbaaaa, makasih ya komennya bikin adem. Iya setuju banget kalau cinta ibu adalah harta tal ternilai untuk setiap anak di dunia.

      Hapus
  13. Asyik ya bisa bawa anak ke kantor...
    Semoga yg terbaik utk alfath & mamanya...

    BalasHapus
  14. Ah...saya merasakan hal yg hampir sama... begitulah suka duka workingmom...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita gak sendiri yaa :)

      Peluuuuk :*

      Hapus
  15. Aih, cinta mama memang luar biasa ya. Ada di kala suka dan juga saat anak panas. Tempra memang pilihan yang bagus mba jika ada anak yang panas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yess Mba, cinta Mama itu seperti energi tersendiri untuk anak2nya, dan Tempra adalah sahabat baik bagi mereka :)

      Hapus
  16. Aku bacanya terharuuuu.. :') Sehat-sehat AlFath, Mba Hani dan suami juga.. Mba, anakku juga happy banget kalo ojek online datang jemput aku.. Hihi.. Apa semua anak-anak suka sama ojol ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, lucu kan Mbaaa. Kadang Alfath suka nanya "ojeknya warna apa Mah? Orange, hitam, atau hijau?"

      Haha sampe tau jenis2 Ojol. Kayaknya memang ojol ini jadi daya tarik tersendiri buat anak, hahaha

      Hapus
  17. Anak demam itu emang bikin tegang ya teh, aku pun kalo sehari kukasih parasetamol, kalo udh lebih sehari langsung bawa ke klinik. Takut kenapa2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, bikin tegang dan kadang kalut gitu, harus berjuang supaya gak panik yaaa

      Hapus
  18. Iyah, kalau anak sakit itu sesuatu yang paling kita takutkan ya

    BalasHapus
  19. Anakku juga cocok minum Tempra. S7ka rasa anggur dan jeruk. Memang deh paling sedih dan merasa bersalah ketika inu bekerja ga bisa memantau penuh apa saja aktivitas anak di rumah. Ibu bekerja dan ibu rumah tangga sama2 mulia mbak. Semangaaattt ����

    BalasHapus
  20. Terharu aku bacanya. Memang kalau anak sakit bikin panik. Makanya aku juga selalu sediain obat penurun panas dirumah.Buat antisipasi supaya ga terjadi demam tinggi.

    BalasHapus
  21. Dilema working mom ya mbak, kalau kerja kepikiran sama anak di rumah. Apalagi kalau anak sedang sakit. Duuh rasanya tuh kaya nano nano. Tapi itulah perjuangan yang kita harus hadapi dan InsyaAllah dengan menjaga kualitas hubungan dengan anak, bondingnya akan tetap dan terus kuat dan terjaga.

    Sehat terus ya kak Alfath

    BalasHapus
  22. Pendar juga cocok pakai Tempra

    BalasHapus
  23. Aku bacanya ya terharu banget! Kaya bisa ngerasain mba.. semoga Alfath tumbuh jadi anak yang kuat dan pengertian ya nak..

    BalasHapus
  24. untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, memang lebih baik menyediakatan paracetanmol biar klo tiba-tiba anak demam/panas bisa langsung diberikan

    BalasHapus
  25. sehat2 selalu ya kak alfath, aku pun pakai tempra klo anakku demam tinggi

    BalasHapus

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe