Tentang Cerita Mudik 2017, Nikmatnya Kebersamaan, dan Pentingnya Asuransi Syari'ah Untuk Keluarga Tercinta

7/06/2017


Assalamu'alaikuuuum. Masih dalam suasana lebaran Idul Fitri 1438 H, izinkan saya, Randi dan Putra kami Alfath, memohon ma'af yang sebesar-besarnya kalau-kalau ada salah yaaa. Taqabbalallahu minna wa minkum. Amiiin.

Lebaran identik dengan mudik terutama bagi yang punya kampung halaman seperti saya, wah moment mudik mau sejauh apa akan ditempuh demi ngumpul bareng keluarga tercinta, ya ngga sih?. Sedikit cerita ya tentang mudik kami tahun 2017 ini, yang merupakan mudik terlama sepanjang sejarah kami mudik kami. Tahun-tahun sebelumnya sekalipun kami kebagian macet, paling maksimal 8 jam. Tapi kemarin pecah rekor, sekitar 17 jam perjalanan Depok - Garut. Wowww!.

Alhamdulillahnya Alfath gak rewel gimana-gimana, yang jadi masalah cuma kalau pas lagi pengen pipis aja sementara rest area masih jauh. Saya juga agak khawatirin kondisi Randi sih karena dia yang mengemban tugas mulia sebagai Pak Supir, seperti biasa. Sepanjang jalan berdo'a terus untuk keselamatan kami semua. Saya juga selalu tanya Randi apa dia ngantuk atau capek, ngeri kan kalau maksain jalan disaat kondisinya gak memungkinkan.

Sebelas jam berlalu dari awal kami berangkat, dan kami baru sampai setengah perjalanan, jalan tol rasanya ngga abis-abis, dan Alfath udah mulai banyak nanya "Mah, Garutnya mana? Rumah Omanya mana?", kesel kali ya.

Untungnya laptop dalam keadaan full charg, jadi saya putar film kesukaannya Alfath aja sebagai salah satu "senjata" supaya dia lupa kalau sedang dalam kemacetan yang sangat parah.

Sesuatu banget deh perjalanan mudik kemarin. Kalau teman-teman gimana nih cerita mudiknya? Walau selalu bikin heboh dan bikin fisik lelah, tapi gak bikin niat untuk mudik ciut kan? kebersamaan dengan keluarga besar di Kampung Halaman selalu membayang-bayangi di sepanjang jalan. Kayaknya rela aja gitu lewatin perjalanan seperti kemarin berulang-ulang demi kebahagiaan di depan sana. Halaahhh, lebay tapi ya seperti itulah adanya, haha.

Bahagianya berkumpung dengan keluarga di Kampung Halaman
Rasa lelah yang dirasakan sepanjang perjalanan mudik menjadi gak ada artinya setelah sampai di tujuan dengan selamat dan dapat langsung salim ke kedua Orangtua dan keluarga lainnya. Walau hanya seminggu waktu kebersamaan, namun cukup mengurangi rasa kangen yang udah numpuk banget. Banyak kegiatan yang dilakukan sama-sama, ngisi waktu buat cerita dan ketawa, rutinitas setiap Hari Raya, reuni dengan sahabat masa kecil, dan banyak hal yang akhirnya "terbeli" dengan waktu yang singkat itu.

Makanan sederhana yang menjadi "mahal" saat dinikmati sekeluarga. Suasana hangat dan penuh keakraban di moment seperti itu memang selalu bikin kangen ya, sekarang aja rasanya udah kangen lagi padahal baru aja selesai mudiknya.

Cuma, gak bohong sih, bayangan ngumpul silaturahmi dengan keluarga yang membahagiaan itu sempet "dihiasi" lintasan-lintasan pikiran jelek yang amit-amiiit jangan sampai terjadi Ya Allah. Iya, saya punya kebiasaan ngebayangin hal-hal menakutkan, kayak gimana seandainya (seandainya lho yaa, amit-amit semoga dijauhkan) kami gak sampai ke Kampung Halaman? Gimana kalau seandainya terjadi sesuatu di jalan yang membuat kami hanya akan membuat sedih dan hancur hati keluarga-keluarga yang sedang manunggu kedatangan kami? Dan banyak "seandainya" yang membuat saya memejamkan mata lama sekali. 

Saya bayangin gimana kalau saya dan Suami saling duluan ninggalin satu sama lain lebih cepat dari yang dibayangkan, gimana nasib anak kami kedepannya? Hiksss. Tapi disaat yang sama, saya Istigfar dan memohon ampun padaNya dan memohon diberikan kelancaran dan keselamatan. Alhamdulillah pulang pergi lancar, kami bahagia selama di Garut, dan melewati arus balik pun dengan sangat lancar.

Selain terus berdo'a memohon keselamatan dan berserah atas apapun yang menjadi kehendakNya, saya dan Randi juga merasa perlu menyiapkan banyak hal untuk kehidupan kami di masa depan, terutama untuk keturunan-keturunan kami. Ah iya, jadi kepikiran lagi tentang itu.

Rencana Masa Depan, perlukah?
Perlu ngga ya? Heeem. Tentang apa yang kita siapkan sedini mungkin untuk kepentingan masa depan orang-orang yang kita sayangi memang menjadi sesuatu yang personal dan prinsipil. Setiap kepala memiliki pemikiran dan prinsip berbeda. Ada yang menabung sedini mungkin, investasi asset dimana-mana, beli saham dan LM, dan lain sebagainya. Namun, banyak juga yang membuka Asuransi sebagai langkah preventifnya.

Asuransi pun banyak sekali pro kontranya ya, banyak alasan mengapa orang tidak berasuransi, namun banyak juga yang memilih cara itu demi membeli sebuah "ketenangan". Ya, ketenangan itulah yang "mahal" sebenarnya, ketenangan yang dapat membuat kita benar-benar bahagia karena bisa makan dengan enak, pikiran lebih plong, tidur nyenyak dengan sedikir beban di kepala, dan suasana hati pun lebih terjaga. Saat psikis sehat, biasanya fisik pun terjaga kesehatannya. Dan banyak yang memilih untuk membeli ketenangan seperti itu dengan berasuranasi.

Saat Asuransi tradisional banyak ditakuti terutama oleh Para Muslim, sekarang hadir Asuransi Syari'ah yang diharapkan dapat menjadi "jawaban" atas semua keraguan dan ketakutannya untuk berasuranasi. Saya sendiri tidak ingin menambah panjang pro kontra, apalagi saya dan Randi termasuk yang pilih-pilih dan mikir panjang dulu sebelum memutuskan sesuatu, termasuk untuk urusan proteksi.

Keuangan Syari'ah bukanlah hal baru bagi Saya sekeluarga, dari sana saya juga mengenal Asuransi Syari'ah, Sukuk, dan lain sebagainya. 
Memperingati tahun ke sepuluh Prudential Syari'ah
Khusus untuk Asuransi Syari'ah, Prudential memberikan banyak sekali kenyamanan dan benefit yang menguntungkan semua orang, prinsipnya adalah saling membantu dengan sesama Saudara, dan tentu atas pengawasan Dewan Syari'ah.

Tahun ini adalah tahun ke sepuluh Prudential bergerak di Industri Syari'ah. Prudential berkomitmen untuk mendengarkan dan memahami kebutuhan masyarakat dan selalu ingin menyediakan perlindungan terbaik. 

Saat ini, telah hadir PRUprime healthcare syari'ah yang merupakan produk Asuransi jiwa rawat inap berbasis syari'ah yang komprehensif bagi keluarga Indonesia yang menanggung biaya rawat inap sesuai tagihan. Keunggulan lainnya adalah PRUprime healthcare syari'ah ini memiliki jangkauan global (di Amerika Serikat hanya perawatan gawat darurat) yang kerennya berlaku untuk perawatan dengan pembayaran secara cashless di Indonesia, Singapura dan Malaysia. 

Mengapa harus Prudential Syari'ah?
Peudential sangat menjunjung tinggi nilai-nilai universal Syari'ah, termasuk di dalamnya prinsip gotong royong, berbagi resiko dan manfaat untuk semua. Ini tentu berdampak baik untuk semua orang, dan pastinya sesuai dengan kebutuhan keluarga di Indonesia.

Prudential bisa dibilang Pemimpin pasar di Industri asuransi jiwa syari'ah , dia menawarkan banyak produk perlindungan yang dirancang bagi mereka yang menganut prinsip syari'ah, dan menganut prinsip "syari'ah untuk semua", jadi gak hanya diperuntukan bagi Muslim, tapi juga untuk nasabah Non Muslim.

Kelebihan lainnya adalah karena PRUprime healthcare syari'ah bisa membayar biaya Rumah Sakitnya sesuai dengan tagihan, wah dengan kata lain kita tidak perlu mengeluarkan uang dari kocek sendiri. Udah gitu, kita bisa milih kamar sendiri lho maksimum Rp. 8 juta/hari.  Dan yang bikin tenangnya lagi, bisa digunakan di seluruh dunia, kecuali Amerika Serikat. Jugaaa, ada PRUprime limit booster, yaitu sejumlah dana tambahan yang dapat digunakan jika seluruh batas manfaat tahunan kita udah dipakai.

·       Siapa aja yang bisa membeli layanan ini?

Semua orang bisa beli layanan ini asalkan usia maksimal 85 tahun. Bisa banget nih dijadikan hadiah untuk Orangtua yang kita kasihi, bermanfaat banget kan ya ngasih hadiah Asuransi ke Orangtuanya, apalagi mereka bebas milih Rumah Sakit manapun yang diinginkan, baik dalam ataupun luar negeri.

Bedanya Asuransi Konvensional dengan Asuransi Syari'ah?
Heeem, saya jelasin singkat aja deh ya, lengkapnya boleh googling karena sudah banyak sekali artikel yang membahas tentang ini.
  • Dalam Asuransi Syari'ah, tidak ada Premi, tetapi diganti menjadi Kontribusi.
  • Dari segi pengelolaan resikonya yang berbeda. Dalam Asuransi konvensional, berlaku sistem transfer of risk, di mana resiko dipindahkan/dibebankan oleh tertanggung (peserta asuransi) kepada pihak perusahaan asuransi yang bertindak sebagi penanggung di dalam perjanjian asuransi tersebut. Sedangkan, dalam Asuransi Syari'ah, pada dasarnya terjadi sekumpulan orang yang saling tolong menolong, saling bantu, dan saling menjamin juga kerja sama dengan cara ngumpulin Tabarru (dana hibah). Itu artinya pengelolaan resiko disebut sharing of risk di mana resiko dibebankan/dibagi kepada perusahaan dan peserta asuransi itu sendiri.
  • Pengelolaan dananya pun berbeda. Dalam Syari'ah sifatnya transparan dan digunakan sebesar-besarnya untuk mendatangkan keuntungan bagi para pemegang polis asuransi itu sendiri. Sedangkan dalam Konvensional, Perusahaan asuransi akan menentukan jumlah besaran premi dan berbagai biaya lainnya yang ditujukan untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan itu sendiri.
  • Selain dua di atas, hal lain yang berbeda adalah sistem perjanjiannya, kepemilikan dananya, pembagian keuntungannya seperti apa, kewajiban zakat, klaim dan layanannya pun berbeda.

Selain itu, kita tidak perlu khawatir karena pengawasan dilakukan secara ketat. Dilakukan oleh Dewan Syari'ah Nasional (DSN) yang telah dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memberi tugas untuk mengawasi segala bentuk pelaksanaan prinsip ekonomi syariah di Indonesia, termasuk mengeluarkan fatwa atau hukum yang mengaturnya.

Juga, ada Dewan Pengawasan Syari'ah (DPS) yang merupakan perwakilan dari DSN yang bertugas memastikan lembaga tersebut telah menerapkan prinsip syariah secara benar. DSN inilah yang kemudian bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap segala bentuk operasional yang dijalankan di dalam asuransi syariah, termasuk menimbang segala sesuatu bentuk harta yang diasuransikan oleh peserta asuransi, di mana hal tersebut haruslah bersifat halal dan lepas dari unsur haram. Hal ini akan dilihat dari asal dan sumber harta tersebut serta manfaat yang dihasilkan olehnya.

Berbeda halnya dengan asuransi konvensional, di mana asal dari objek yang diasuransikan gak jadi masalah, karena yang dilihat oleh perusahaan adalah nilai dan premi yang akan ditetapkan dalam perjanjian asuransi tersebut.

Seperti yang tadi saya tulis, informasi detail boleh teman-teman googling ya, atau langsung copas aja link ini https://www.prudential.co.id/corp/prudential_in_id/ dan bisa juga datang ke Kantor Prudential terdekat.

Huuum, ngomongin rencana masa depan memang gak akan ada habisnya ya, tapi demi yang terbaik bagi anak cucu kita, memang harus belajar lebih banyak dan melakukan lebih banyak juga, gak hanya wacana semata, ya ngga? hahaha, berat amat ya bahasannya.

Udah dulu yaaa, semoga tulisan ini bermanfaat, daddaaaaa.

You Might Also Like

3 komentar

  1. PRUprime menarik nih, produk baru ya Han? Inovatif banget ya Prudential ini

    BalasHapus
  2. Salam kenal Ibu Hani, hehe
    Mudiknya 17 jam luar biasa ya. Saya balik dari Solo - Jakarta naik motor 24 jam saking macetnya... nikmatnya mudik, setahun sekali :)

    BalasHapus
  3. Saya juga pakai asuransi Prudential untuk pendidikan tapi belum yang syariah. Mudik 17 jam perjalanan lumayan banget, ya :)

    BalasHapus

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe