THR 2016 Untuk Di Habiskan

7/14/2016



Assalamualaikum temans, masih dalam rangka menerima tantangan Teh Ani Berta untuk ODOP (One Day One Post), Tema hari kedua adalah tentang THR (tunjangan Hari Raya). Baiklah, saya semangat untuk menceritakan kemana habisnya uang THR saya tahun ini.

Baca Juga #ODOP #Day1 : Serba - Serbi Cerita Lebaran 2016.

Habis? Iyaa, baca aja Judulnya, hahaha. 
*Kemudian rogoh dompet yang gak ada isinya* *nangis kejer*

Semoga, postingan ini ngga masuk kategori Humblebrag atau sejenisnya ya, pure ingin berbagi cerita saja. Postingan ini benar-benar curhatan saya.

Tahun ini, Alhamdulillaaah tak terhingga saya rasakan sangat penuh berkah, insha Allah. Karena bertubi-tubi rezeki yang Allah titipkan entah dari penghasilan bulanan berikut THRnya, ataupun dari pekerjaan saya sebagai Blogger dan Buzzer. Allah Swt. begitu baik mendekatkan saya kepada para Senior Blogger yang senantiasa membimbing dan mentransfer ilmunya sehingga saya kebagian "jatah" beberapa job keren tahun ini. Karena itu juga, keluarga kecil kami dapat mudik dengan perasaan ceria dan bahagia.

Kembali ke THR. 

Jadi, tahun-tahun sebelumnya saat saya belum kembali bekerja, saya di hadapkan kepada beberapa kondisi yang saat itu membuat saya sangat cengeng. Dikit-dikit nangis, menyesali diri karena merasa menjadi anak yang "tidak ada gunanya", walaupun saya sudah berkeluarga, saya masih mempunyai beberapa keinginan yang saat itu belum terwujud. Saya ingin dapat memberi lebih (secara materi) kepada orang-orang dan keluarga yang selama ini membantu saya tanpa kenal lelah, selalu ada di dekat saya saat kondisi saya terpuruk, dan ikut andil membantu saya merawat Alfath saat saya sakit cukup parah. Bisa dikatakan, itu semacam Nadzar yang harus saya tunaikan.

Dan tahun ini, lebaran kali ini, semua terwujud, Alhamdulillah. Satu persatu saya penuhi janji-janji saya di tahun sebelumnya. Tanpa banyak berpikir apa yang akan terjadi dengan keluarga kecil saya apabila semua uang THR itu habis. Yang saya tahu, kebahagiaan mereka (keluarga dan orang-orang yang sudah seperti keluarga) adalah THR terbesar walau hanya sebatas baju baru, jilbab baru, sendal/sepatu baru, alat-alat sekolah baru, kue-kue yang saya susun menjadi bingkisan-bingkisan kecil. Dan selebihnya, saya berikan juga "mentah"nya.

Dari bingkisan kecil ini, saya dapat melihat kebahagiaan yang besar.
Untuk Orangtua saya dan Orangtua suami pun tanpa berpikir panjang, tahun ini kami memberikan "angpau" dengan nominal yang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Walau mereka agak heran dan bertanya apakah kami tidak akan kekurangan uang nantinya? tapi kami yakin rezeki yang diberikan kepada orangtua akan memberikan keberkahan tersendiri. Dan nominal seberapa banyak pun sebenarnya tidak akan mampu "membayar" jasa dan pengorbanan mereka kan ya.

Di Kampung kelahiran Mama saya, Alfath di ajarkan untuk kembali berbagi kepada teman-teman seumurannya. Saya menekankan prinsip kepada anak saya, untuk membiasakan diri "tangan di atas" atau lebih banyak memberi daripada meminta dan berharap. Saya ingin di masa depan, Alfath terbiasa seperti itu. Dan ya, uang THR saya dan suami tahun ini, sukseeees kami habiskan. Sebagian masuk celengan dan Tabungannya Alfath karena itu memang hak dia.

Dengan uang THR yang habis tersebut, saya tidak menyangka akan sebahagia dan sebersyukur saat ini. Semua janji terlunasi, nadzar saya terpenuhi. Semoga rezeki yang dibagi walau sedikit itu semoga memberikan manfaat yang banyak bagi yang mendapatkannya. Saya dan Suami meyakini, rezeki yang Allah titipkan kepada kami adalah untuk membahagiakan orang lain juga. Tahun ini, Alhamdulillah saya sekeluarga dapat memberi lebih. Apa yang kami dapat, kami kembalikan kepada yang berhak.

Apakah saya dan suami menyesal telah menghabiskan semua uang itu? Insha Allah tidak. Kami bahkan tidak tahu apakah tahun depan dapat memberikan hal serupa apalagi lebih, kami tidak tahu kapan dan siapa yang akan "pergi" duluan, kami takut kesempatan itu tidak akan ada lagi, karena itu kami memanfaatkan moment saat ini sebaik mungkin. 
Dulu, impian saya adalah mandiri, tinggal terpisah dari orangtua, berdiri di atas kaki saya sendiri, mencari jatidiri dan meraih mimpi. Namun, setelah menikah, punya anak, dan benar-benar "terpisah" dari orangtua, rasanya ternyata gini ya, huhu, sejujurnya sih sedih banget. Manusiawi kan ya ngerasa seperti itu? Di saat saya sebagai anak pertama dan anak perempuan satu-satunya, belum dapat berbakti apa-apa kepada Orangtua tercinta. Dan lebih terasa lagi ketika saya mempunyai tanggung jawab baru seperti kewajiban sebagai Istri dan Ibu, sementara Orangtua yang semakin termakan usia seakan "terlupakan". Sepertinya saya rela "membayar" berapapun hanya untuk "membeli" quality time bersama Orangtua dan keluarga.
Melalui postingan ini, saya juga ingin mengucapkan kepada Teh Ani, Mba Haya, Mba Shinta Ries, juga Mas Hazmi, dan semua Senior Blogger, Jazakumullah khairan katsiran. Wa jazakumullah ahsanal jaza. Terima kasih untuk semua kebaikannya selama ini, terima kasih telah "menyeret" saya ke lingkaran kalian yang positif sehingga semua harapan saya di lebaran tahun ini dapat terwujud. Terima kasih untuk setiap kebaikan yang mungkin tidak akan pernah bisa saya balas secara sempurna, namun semoga Allah Swt menggantikannya berkali-kali lipat. Amiin Ya Rabb".

*OneDayOnePost #2

You Might Also Like

2 komentar

  1. kalau kata kakak saya yang perencana keuangan, uang yang dihasilkan itu memang harus dihabiskan.. entah buat nabung, investasi dan konsumsi. jadi jangan ada dalam perasaan kita, kita "nyisihkan" uang, tapi "habiskan" uang. dengan begitu, gak akan muncul perasaan kesal. karena kadang ada beberapa orang yang kesal, sudah kerja capek-capek, tapi uangnya malah "gak dipakai"...

    hehehe

    BalasHapus
  2. bener banget kak, thr buat apa kalo ga dihabiskan :)

    BalasHapus

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe