Serba - Serbi Cerita Lebaran 2016

7/13/2016

Source grafis : Freepik
Assalamualaikum, selamat datang di "Rumah Hani Randi. Ma'af yaaa disini masih berantakan, harap di maklumi kemarin kami baru pulang mudik dari Garut. Rumah di dunia maya di tinggal seminggu bikin debu tebel dimana-mana. Rumah di dunia nyata pun gak kalah berdebunya. PR banget yaaa. Yasud, yuuk tinggalkan masalah debu, kali ini saya akan cerita sedikit tentang mudik keluarga kami tahun ini.


Akhirnya kami bisa berlebaran Idul Fitri di Garut, setelah tahun kemarin di Jakarta. Saya selaku yang "punya kampung" seneng banget karena bisa kembali menghirup udara segar Kota Garut. Walaupun yaaa, Garut dengan semua kemajuannya membuat beberapa daerah berpolusi, tapi disana kita masih bisa menikmati alam yang dikelilingi pegunungan kok. Udara segar dengan oksigen melimpah merasuki organ pernafasan siapapun yang ada disana. Ah, Garut, Kota kecil yang sangat saya cintai.

Persiapan mudik (2 dewasa + 1 anak), bawaan segunung.
Mudik tahun ini kami tidak naik bis, kami membawa kendaraan sendiri, dengan harapan lebih nyaman selama perjalanan karena Alfath sekarang udah semakin besar dan semakin aktif (baca: gak bisa diam dan banyak protesnya). Ternyata, Alfath malah pengen naik bis, dia sempat beberapa kali merengek turun dari mobil sambil teriak "naik bis aja yuuuk". Hemmm, sepertinya dia lupa perjalanan terakhir mudik kami waktu (salah) naik bis, tanpa AC, tanpa gorden, dan muter ke daerah Purwakarta. Kami "terpanggang" di bis yang ngetemnya lama, sementara penumpang banyak yang merokok, dan Alfath nangis histeris karena kepanasan dan pengap, saya pun mulai putus asa karena sama sekali gak bisa berdiri atau turun sebentar dari bis mengingat di dalam bis itu penuh sesak. Kalau ingat kejadian itu, saya pasti langsung tarik nafas panjang, karena selain Alfath, ada beberapa bayi yang nangis kejer hampir selama perjalanan. "Horor" banget.


Mudik dengan kendaraan pribadi jelas berbeda dengan naik kendaraan umum, banyak persiapan yang harus di lakukan supaya mudik lebih nyaman.

Beberapa hal yang kami lakukan untuk persiapan mudik kemarin.

Baca Juga : Tips Mudik Cerdas.

Cek rutin kendaraan.
Seminggu sebelum mudik, kami cek kendaraan demi memastikan semua komponen aman dan dapat mengantarkan kami sampai tujuan tanpa kendala.

Bawa kotak P3K.
Di antara semua barang yang kami bawa, kotak P3K dan ember sekaligus sabun pembersih mobil adalah yang tidak lupa kami bawa. Persediaan obat dan terutama untuk pertolongan pertama adalah hal penting untuk dibawa selama perjalanan. Begitupun alat-alat cuci mobil. Banyak yang heran kenapa sampai ember segala di bawa? Karena kami sangat peduli sekali akan kebersihan mobil terutama saat lebaran, haha. Bisa aja sih pakai yang ada di rumah orangtua, tapi lebih baik bawa persediaan sendiri supaya lebih praktis dan bisa di pakai kapanpun kita mau. Kadang, di rest area pun kami bersih-bersih kaca mobil lho biar kinclong. LOL.

Menyiapkan E-Toll atau E-Money. 
Supaya tidak repot menyiapkan uang tol, jadi tinggal tap aja. Kebayang kan rempong nya perjalanan kalau bawa Batita. E-toll ini sangat membantu sekali. Tapi walau begitu, tetap siapkan recehan di luar dompet, jaga-jaga kalau di perlukan.

"Kartu sakti" selama perjalanan.
Siapkan makanan dan minuman. 
Simpan di area yang mudah terjangkau tangan. Terutama makanan dan cemilan anak. Saya memanfaatkan Cooler Bag bekas saya menyimpan ASIP menjadi "kulkas portable" untuk menyimpan minuman dan beberapa buah supaya tetap dingin. Dan menyimpan beberapa cemilan di bagian atasnya. Praktis.

Cooler Bag (bawah : minuman dan buah. Atas : cemilan) + tahu lontong

Untuk minuman, walaupun suami saya tidak terlalu menyukai kopi, namun tetap saya sediakan. Sepertinya perlu ya supaya tetap melek di perjalanan seperti ini. Dan iya, akhirnya Pak suami pun minta black Coffee, haha. Untuk saya dan Alfath, saya sediakan jus buah dan susu UHT kemasan kecil-kecil.

Oh iya, di daerah Cileunyi selepas pintu tol keluar, saya hampir selalu membeli lontong dan tahu Sumedang untuk mengganjal perut selama perjalanan. Kemarin, saya juga membeli ubi Cilembu khusus untuk Mama.

Penting sekali menyiapkan makanan & minuman selama di perjalanan, untuk menjaga kita tidak kelaparan kalau-kalau terjebak macet, atau memang malas turun dari kendaraan. Saya juga menyiapkan satu termos untuk air panas, dan beberapa botol besar air mineral.

Masuk Rest Area. 
Capek gak capek, ngantuk gak ngantuk, yang nyetir kendaraan haruslah istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Fungsinya jelas untuk recharge tenaga, untuk Ishoma, ganti baju/Popok anak. Cari makanan berat yang bisa dimakan di tempat atau take away dan di makan di mobil. Intinya, pastikan pak suami tidak kelelahan yang berlebihan, karena harus waspada microsleep yang dapat membahayakan jiwa banyak orang. 

Kuasai Medan jalan menuju Kampung Halaman yang di tuju. 
Setidaknya, kita pasti sudah punya gambaran tentang kondisi jalanan yang akan di tempuh. Walaupun sebelumnya kami lebih sering mudik dengan kendaraan umum dan tau sampai aja, tapi saya selalu memperhatikan jalanan selama perjalanan (kalau gak ketiduran). Karena itu, saya kembali mengingatkan suami saya untuk lebih berhati-hati di beberapa titik seperti saat keluar tol Cileunyi, saat melewati Pabrik Kahatex (di jam-jam tertentu akan sangat padat dan ramai), dan terutama di kawasan lingkar Nagreg yang rawan kecelakaan. Alhamdulillah perjalanan ramai lancar kemarin.

Lingkar Nagreg saat arus mudik & arus balik.
Family Time is Priority. 
Karena kami tidak bisa berlama-lama menikmati libur lebaran, dengan berat hati saya mengesampingkan dulu undangan teman-teman di Garut untuk buka bersama ataupun halal bi halal. Ini sangat berat mengingat kami yang sudah sekian lama gak ketemu, ada rasa rindu yang kian menumpuk. Namun, saya pun tahu bahwa keluarga saya jauh lebih merindukan kami anak cucunya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menikmati setiap menitnya untuk berkumpul dengan keluarga saya.
Quality time bersama keluarga inti.
Kebahagiaan Selama Di Garut.

Quality time.
Mungkin saya adalah salah satu orang yang berbahagia saat berada di Garut kemarin, rasa bahagia yang membuncah membuat saya tidak ingin jauh-jauh dari keluarga saya, terutama Mama. Kangen yang teramat sangat sedikit terobati dengan waktu kebersamaan yang berkualitas.

Loc : Rumah Orangtua, Swiss Van Java, Sawah Bapak. Keliling di sana doang.
Memang tidak banyak tempat yang kami datangi saat saya di Garut, mengingat Garut menjadi Kota kecil yang sangat padat dan macet dimana-mana saat moment lebaran seperti itu. Hanya keliling tempat yang dekat dengan rumah, seputaran Garut Kota, beberapa kali kulineran (dominan makan bakso karena di Garut banyak sekali bakso yang enak), dan coba menjajal Swiss Van Java di daerah Tarogong.

Opor dan Ketupat.
Karena sudah terbiasa ada opor dan ketupat, maka salah satu definisi lebaran bagi saya adalah makan duo menu tersebut. Tahun kemarin gak sempet makan opor dan ketupat karena di keluarga suami saya gak ada ketupat (adanya lontong, dan bagi saya lontong berbeda dengan ketupat), akhirnya kemarin saya kembali kalap makan itu. Enaknyaaa makanan buatan Mama, mengingatkan ke masa kecil.
This is what I'm talking about. Makan nikmaaaaaat.
Kegiatan saat hari H & H+1.
Setelah sholat ied, sungkem dan makan, kami sekeluarga keliling makam keluarga yang telah berpulang. Lanjut keliling untuk silaturahmi, dan di akhiri dengan tidur yang super nyenyak, haha.

Hari lebaran kedua, saya mulai mengumpulkan oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta dan Depok. Walau tidak banyak dan hanya oleh-oleh sederhana saja. Dan di hari yang sama, kami memanfaatkan untuk wiskul lagi sebelum saya kembali pulang ke Kotanya Pak Suami, Jekardahh.

Semua menu ini dapat di temukan di Carli Caplin, Swiss Van Java, Garut
Bakso-Bakso di Garut memang Juaraaaaaa!
Kesibukan pasca lebaran. 

Hari pertama pasca pulang mudik, saya dan suami langsung membagi-bagikan sedikit oleh-oleh kepada tetangga di Komplek, dan beberapa teman.
Berbagi sedikit Oleh-oleh.
Saya dan suami tidak mengambil cuti pasca lebaran, kami kembali kerja di hari pertama, disaat banyak teman sekantor yang masih di kampung halamannya masing-masing. Itu memberikan "mandat" lebih kepada kami untuk back up kerjaan teman satu tim apabila memang di perlukan.

Saat ini kami kembali ke rutinitas sehari-hari yang mulai berjalan normal seperti sebelum Ramadan dan Lebaran. Kembali berjibaku dengan kemacetan dan polusi Ibukota, dll. Semangaaat.

Naaaah, itu sedikit cerita Lebaran keluarga kami. Mana cerita Lebaran teman-teman?

Akhir postingan, keluarga Hani Randi beserta Alfath mengucapkan "Taqabbalallahu Minna wa Minkum shiyamana wa shiyamakum" dan mohon di bukakan pintu ma'af selebar-lebarnya untuk setiap kesalahan dan kekurangan kami selama ini. Amiiiin.
*OneDayOnePost #1

You Might Also Like

12 komentar

  1. Seruuu kegiatan Lebarannya...hampir sama sih kayak keluargaku. Intinya waktu Lebaran paling asyik kalo dihabiskan bersama keluarga tercinta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mba Ika, sekaligus mengobati rasa kangen ya Mba.
      Mohon ma'af lahir batin ya Mba Ika :*

      Hapus
  2. Seru ih...lebarannya mbak... Yang nggak kebayang pas tahun kemarin naik bus non AC bin sesak nun sumpek. Tapi si kecil malah suka naik bus. Hihi, namanya juga masih anak2, mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, Iya Mba Isna, mungkin kalau dia udah gedean dan udah bisa di bilangin, boleh juga sesekali mudik naik bis lagi, biar bisa bobo lama di jalan :))

      Mohon ma'af lahir batin ya Mba Isna :*

      Hapus
  3. seru bgt lebarannya mba..salam kenal ya


    Suka banget sama Garut dan berharap bisa nyobain bakso garut lain kali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali Mba Fitri, mohon ma'af lahir batin yaa :)

      Ayo mba cobain bakso yang ada di Garut satu2 ;))

      Hapus
  4. Enaknya mudik ya, bertemu keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Iya Mba, hihi.

      Mohon ma'af lahir batin yaaa :))

      Hapus
  5. Alhamdulillah senang ya bisa mudik.
    Itu cerita di awal emang horor ya mbak, apalagi buat yg bawa bayi. Moga gk kejadian lg yaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Iya Mba, dan pengalaman tahun kemarin2 itu memang memberikan pelajaran penting banget untuk mudik2 selanjutnya :)

      Makasih ya Mba, mohon ma'af lahir batin :*

      Hapus
  6. Ngomong2 ke Garut berapa jam mba? Saya pernah mudik dari Bekasi ke Solo itu 18 jam perjalanan, pake acara nyantai, pipis berkali2 di rest area hehe...

    www.catatanamanda.com

    BalasHapus
  7. Garut kotanya memang oke banget kayanya ya. teman saya bahkan ada yang pindah permanen ke garut, dari jakarta..

    BalasHapus

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe