Mama Alfath kena Cacar Air.

4/13/2016


Cacar air atau yang juga dikenal Chicken pox adalah penyakit yang di sebabkan oleh virus varisela zoster. Biasanya cacar air menyerang anak di bawah usia sepuluh tahun dan di atas usia satu tahun, tapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa. 

Cacar air biasanya di awali dengan demam, lalu akan muncul lentingan (vesikel) yang berisi air, mirip dengan tetesan air atau biasa di sebut tear drops. Lentingan itu lama kelamaan akan berubah keruh, sebagian ada yang bernanah, namun setelah itu akan terjadi proses pengeringan. Dan di situlah rasa gatal luar biasa menyerang, itu yang saya alami bulan kemarin.

Ohya, saya dan adik memang tidak mengenal cacar air hingga akhirnya ngalamin sendiri kemarin, si adik sampai sekarang belum ngalamin. 

Kronologis. 
beberapa bulan kemarin saya mengalami siklus bulanan yang tidak seperti biasanya. Sepertinya hormon saya sedang bermasalah, besar kemungkinan disebabkan karena kecapean dan stres. Namanya juga orang hidup ya, ada aja yang jadi bahan pikiran. *lho kok jadi curcol?

Saya mengalami datang bulan per dua minggu sekali, hingga satu hari rasa pusing dan lemesnya kok beda. Kepala terasa berat, dan badan seperti kehilangan energi nya seketika. Super lemes, sempet minta suami bawa saya ke UDG saja karena untuk jalan pun susah.

Kehilangan kata-kata untuk ngeluh, cuma bisa nangis. Kayaknya sih itu udah cacar, tapi karena fokusnya ke bleeding nya saja, jadi sama sekali gak kepikiran cacar. Besoknya suami nganterin ke Obsgyn.

Setelah cek segala macam, kondisi rahim Alhamdulillah baik, tidak ada miom ataupun kista seperti yang di khawatirkan dokter. Yang harus di waspadai adalah HB (hemoglobin) rendah yang seringkali saya alami. Kemudian saya diminta cek darah. Tapi ini kemudian cancel karena saat itu hari sudah larut, anak saya Alfath (2yo) cranky karena jam tidurnya sudah lewat sementara antrian lab masih panjang. Kami memutuskan pulang.
Besoknya, saya menyadari lentingan/benjolan di belakang telinga yang sebelumnya dikira jerawat, kok nambah lagi di sisi kepala yang lain?. Dodolnya, saat itu pun saya belum sadar kalau itu cacar. Dan kelenjar getah bening di belakang telinga mulai membengkak, kepala makin nyut-nyut. 

Karena lentingannya semakin lama semakin nambah (mulai yakin itu cacar), balik ke RS lagi jadinya, huuft sangat melelahkan. Tiba di Hermina Depok sekitar jam satu siang, saya baru bisa bertemu dokter internist sekitar pukul tiga kurang. Itupun sangat tidak puas, dokternya seperti terburu-buru. Hanya periksa sebentar, dokternya ragu itu cacar, katanya kalau cacar biasanya langsung timbul banyak tapi ini kok enggak, cuma ada benjolan kecil beberapa saja di bagian tubuh tertentu. Hiks, dokter kok galau?

Akhirnya saya di minta cek darah (lagi) dan di kasih resep obat dan vitamin. Saya lupa itu obat apa tapi baru sekali saya minum, jantung saya gak karuan rasanya. Saya mutusin obatnya gak diminum lagi.
FYI, dokter internist yang saya datangi bukan dokter yang biasa menangani alergi saya (dr. Sukamto), saat itu sikon nya urgent dan susah banget ketemu dr.Sukamto. Biasanya setiap kali ceck up, walaupun bukan tentang alergi, saya nyamannya konsultasi dengan Beliau. Alhasil, bolak balik gak jelas. Syedihhh.
Di hari ke enam, suami ngajak untuk periksa di klinik aja, gak ke RS. Pertimbangannya selain karena kami susah dapat antrian untuk periksa di Eksekutif, juga karena teman kantornya mas suami memberi saran periksa ke klinik mengingat dia gak lama sebelumnya ngalamin cacar air juga dan sembuh dengan obat yang diberikan disana. Selain itu, suami bilang gak ada salahnya kami memanfaatkan BPJS. Iya juga sih.

Perjuangan dapat antrian di klinik pun ternyata gak semudah yang kami pikir sebelumnya. Setelah bolak balik dua kali, baru saya bisa bertemu dokternya, Alhamdulillah ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Walau dokter di klinik sepertinya masih sangat muda (baru kayaknya) tapi penjelasannya cukup memuaskan. Saya pun di beri resep beberapa obat, dan berkat BPJS semuanya gratis.

Penanganan cacar air saya termasuk telat karena seharusnya saya bisa menyadari lebih dini dan mendapatkan anti virus sebelum 48 jam pertama. Tapi karena disadari belakangan, virus nya sudah beranak pinak, but its oke saya berusaha untuk tidak panik walaupun beberapa hari saya merasa tersiksa dengan rasa gatal, panas, sakit kepala, badan linu-linu, radang, dsb.

Ohya, saya sempat share di Komunitas Emak Blogger (KEB) tentang yang saya alami, banyak masukan dari emaks disana. Beberapa di antaranya adalah Mandi dengan air PK, di balur dengan jagung muda yang di parut setelah cacar mulai mengering. dll.

Saya sempat di balur dengan jagung muda yang di parut, rasanya adem dan ngurangin gatal seketika. Siksaan karena gatal gak terlalu berasa. Tapi hingga detik ini, saya belum (berani) coba mandi dengan air PK itu. Gak tahu kenapa kok saya merinding duluan ngebayangin airnya yang berwarna ungu pekat kehitam-hitaman, huhu dasar saya kadang mudah parno. Tapi mandi dengan cairan antiseptik (Dettol) terus lanjut.

Membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu hingga semua cacarnya kering dan rontok. Alhasil selama itu juga saya gak ngantor. Tapi saat saya menulis ini, saya sudah kembali ke rutinitas kantor seperti biasa, ini minggu kedua kembali ke "kehidupan nyata".

Yang Dilakukan Selama Cacar.
  • Yang pasti tetap mandi dengan cairan antiseptik (Dettol), minimal banget 2x sehari.
  • Ganti baju sering-sering.
  • Baju bekas pakai di pisah dari baju kotor anggota keluarga lainnya, di cuci menggunakan antiseptik dan di rendam di air panas (saran dari kakak sepupu). Selama cacar, pakai baju yang santai dan gak tebel.
  • Anti virus jangan lupa di minum (walau bawaannya males).
  • Minum air putih dan makan buah lebih banyak.
  • Tahan diri supaya gak garuk-garuk berlebihan di daerah yang ada lentingannya.
  • Tahan diri supaya gak beraktivitas dan kena angin di luar rumah karena virus cacar mudah tertular lewat udara (aerogen), kasian kan kalau sampai ada yang ketularan gara-gara kita.
  • Tadinya takut Alfath (2yo) ketularan, tapi setelah tahu rasanya cacar di usia dewasa, saya malah sengaja "nularin" ke dia, mumping usianya udah lewat satu tahun dan belum nyampe sepuluh tahun. 
Pelajaran Penting Tentang Cacar Air.
  • Walau pasti ada aja orang (bisa tetangga, temen atau bahkan keluarga sendiri) yang nyuruh jangan mandi, penderita cacar sebaiknya mandi aja, supaya bakteri yang ada di keringat juga kebilas. Tapi hati-hati saat mandi, pelan-pelan aja takut lentingannya pecah.
  • Mandinya boleh pakai Antiseptik atau air PK (tapi kemarin gak nyobain sih).
  • Bagi teman-teman yang sampai sekarang belum pernah ngalamin cacar air, usahakan jaga kondisi badan (imun) jangan sampai drop, dan banyak baca tentang cacar air (pencegahan, gejala, dan penangannya).
  • Usahakan jangan sampai telat tahu. Penderita cacar sebaiknya mendapatkan anti virus maksimal 2x24 jam dari awal lentingan pertama muncul (please CMIIW ya, teman-teman bisa gugling lagi tentang ini), intinya jangan telat di tangani.
  • Jangan stres. Karena mau se-stres apapun, itu cacar gak bakalan ilang seketika. Tetep waktu yang bantu nyembuhin (1-2 minggu). Jangan terlalu ngarep bekas cacarnya cepet ilang, kita bisa nahan supaya gak garuk-garuk aja udah Alhamdulillah. Urusan bekas cacar, pikirin belakangan aja. *nangis belakangan*
  • Nah ini nih penting juga, jangan "gatel" buat copot-copotin cacar yang sudah mengering. Kemarin sempet gak sadar, sambil ngobrol eh tangan mocel-mocelin bekas cacarnya padahal belum semuanya kering sempurna.
  • Orang yang sudah kena cacar air, bukan berarti terbebas sepenuhnya dan gak bakal tertular lagi lho. Karena itu imun harus di jaga banget, terutama untuk yang sudah berusia antara 50-60 tahun, karena ada kemungkinan terkena herpes (harus lebih banyak baca lagi tentang ini nih).
  • Cacar pada bayi (di bawah satu tahun) dan dewaasa (di atas sepuluh tahun), biasanya lebih "heboh" dan sakit dibandingan dengan cacar di usia 1-10 tahun.
Walau cacarnya bisa dikatakan sudah sembuh, tapi saya punya PR lain yang belum tuntas yaitu Hemoglobin (HB) yang sedang terjun bebas ke angka 7, hiks kebayang dong gimana kondisi saya sekarang. Mudah lemes dan kleyengan, makanya masih harus pelan-pelan saat jalan.

Btw, makasih ya Papa Alfath, suamiku Randi yang udah sabaaaar banget seperti biasanya ngurusin istrinya ini dari mulai bangun hingga tidur lagi, walau selama cacar gak pernah bener-bener tidur karena rasanya yang gak jelas banget, Di tambah Alfath yang masih WWL (Weaning With Love), kalau malam pengennya "ngempeng" terus. And thank you to make me feel better selama sakit hingga akhirnya sembuh, Alhamdulillah.

Yang di syukuri banget dari kejadian cacar ini selain udah lewat adalah, cacarnya gak naik-naik ke wajah (walau sempet masuk mulut, hiksss).

Teman-teman ada yang ngalamin cacar saat dewasa juga? share yuuuk di komeeen. Thank you :*

You Might Also Like

8 komentar

  1. alhamdulillahh dulu udah pernah cacar mbak,..
    semoga lekas diberikan kesehatan yang pulih ya mbak hani ^^

    BalasHapus
  2. Wah alfath udah wwl, abhi masih nyusuu ����. Bdw cacar cuma sekali seumur hidup kan yaa

    BalasHapus
  3. aku lagi kecil sdh kena cacar, aku masih inget yang kena adikku duluan, trus merambat ke akud an adikku yg lain.

    BalasHapus
  4. smoga setelah cacarnya sembuh, selalu sehat mbak
    amin

    BalasHapus
  5. Semoga cepat pulih seperti sedia kala ya Mbak Hani. Makasih banyak sharingnya, semoga sih saya gak mengalami cacar (belom pernah dari kecil), tapi ilmunya sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  6. Syukurlah kalo sudah sembuh. Semoga cepet fit lagi ya mbak. Alhamdulillah aku cacar pas kecil dulu, tp jadi kepikir anak2ku blm ada yg cacar sample skrg umur 9 sama 4 tahun.

    BalasHapus
  7. Setiap yang bernyawa pasti merasakan cacar :p

    BalasHapus
  8. huhu..aku ikutan keliyengan baca ceritanya.
    Yok naikkan Hb, perbanyak makan hati sapi

    BalasHapus

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe