Mama Alfath kerja lagi? Alfath sama siapa dong?

10/13/2015

"Kerja lagi, Han?""Alfath sama siapa selama ditinggal kerja? "
Pertanyaan2 di atas banyak saya terima beberapa minggu ini. Memang, bagi sebagian teman yang belum tau rencana saya kembali berkarir, pastinya akan kaget. Tapi bagi sebagian teman (terutama yang sering jadi tempat curhat, haha.. makasi yaa) keputusan saya bekerja lagi adalah bukan hal baru.

Sebenarnya niat bekerja itu sudah ada sejak lama, dari semenjak Alfath dilahirkan. Hanya saja waktunya saja yang akhirnya "meleset".

Tadinya, saya ingin memulai karir lagi setelah usia Alfath genap dua tahun. Tapi apa daya, saya harus masuk beberapa bulan menjelang usianya Alfath yang kedua. Alhasil, ketar ketir perjuangan baru pun dimulai.

Ada banyak drama di kisah "Mama Alfath Kerja Lagi" ini, tapi disini saya cerita singkat saja, juga untuk menjawab pertanyaan teman2 yang tidak sempat dijawab satu2. Dan karena setelah pertanyaan yang satu, ada lagi pertanyaan lainnya (beranak) jadi saya buat jawaban berjama'ah disini.

Hmmm.. suatu hari, keputusan saya kembali bekerja sampai ke telinga keluarga saya dan suami. Keluarga saya Alhamdulillah memberikan support dan tentunya pesan2 yang banyak banget. Minta saya jaga kesehatan, jangan terlalu capek, libur dulu blogging, dsb.

Yang jadi masalah pokok adalah, Alfath gimana saat saya tinggal kerja?.

Orang-orang yang kenal dekat dan faham banget sifat saya tentunya tahu kalau saya "gak percayaan" ke mbak. Saya termasuk yang sangat sangat susah percaya dengan orang baru, apalagi dia benar2 asing. Dan ini menyangkut kepada siapa saya menitipkan harta terbesar saya, Alfath. Tidak semudah itu saya memutuskan mengambil mbak untuk dititipin Alfath. Pikiran itu sangat jauh di benak saya. Namun, karenanya lah saya membutuhkan "tim sukses", siapa saja mereka?

Option pertama jatuh ke Omanya Alfath. Jauh2 hari saya pamit dan minta izinnya Bapak (Kakek Garut nya alfath) untuk saya pinjem Mama beberapa waktu stay ditempat saya selama masa penyesuaian. Saya tahu, ini akan sangat berat untuk Alfath, dan tentu saja saya. Jadi saya sangat membutuhkan sosok dewasa dan bijak untuk menguatkan kami, dan tentu saja itu orangtua. Sempat berpikir minta bantuan Neneknya Alfath (di pihak Papanya), namun karena satu dan lain hal, itu tidak bisa.

Nangis berbulan bulan sudah lama lewat, air mata rasanya "kering" sudah, tapi dalam hati.. tetap saja bathin menjerit. Alasan kenapa saya memutuskan bekerja lagi akan saya bahas di postingan berbeda ya.

Alhamdulillah sebelum saya minta pun, ternyata bapak sudah ngomong duluan ke mama untuk nemenin Alfath dulu. Bapak memang sangat protektif terhadap cucunya ini. Ketika saya memutuskan bekerja, bapak tidak melarang, tapi saya tahu beliau tidak sepenuhnya mendukung. Bapak terlalu berat membayangkan cucunya harus ditinggal Mamanya di usianya yang masih ngASI, tapi disisi lain, bapak tahu ketika saya memutuskan sesuatu pasti karena ada alasannya, dan bapak tahu ketika saya memutuskan sesuatu, akan sangat susah diganggu gugat. Well, semua orang boleh bilang saya keras kepala dan obsesif (itu mah udah dari lahir), tapi selalu ada alasan yang make sense dibalik itu semua. At least for me, may not for you. hohoho

Kembali ke Alfath sama siapa..


Selain dengan Omanya, saya dan suami memutuskan memasukan Alfath ke daycare yang ada preschool nya. Sekolah khusus balita ya tentunya, yang gak ada paksaan untuk belajar yang berat2 dan penuh dengan permainan. Lalu saya BW ke beberapa blog teman Blogger saya yang anaknya dimasukan ke daycare. Salah satunya adalah blog mak Icha (salah satu blog yang sering saya bewe-in diam2, haha). Disana lah, saya mendapatkan kekuatan lebih. Kata-kata mak Icha yang penuh kejujuran meyakinkan saya untuk mulai hunting dan survey daycare, Alhamdulillah saya dan suami nemu yang deket-deket rumah, dua bulan sebelum saya bekerja, saya sudah mulai mengenalkan Alfath dengan lingkungan daycare. Maksudnya supaya dia gak kaget, dan mulai mengenal teman-teman baru dan bunda gurunya lebih awal.
Insha Allah di usianya Alfath yang ketiga nanti, dia akan kami masukan ke sekolah setingkat PAUD. *Insha Allah ya kak, do'ain mama papa bisa sekolahin kamu ke sekolah yang baik untuk kamu, nak..
Apa yang ditulis mak Icha, hampir sama dengan apa yang ada di pikiran saya. Saya lebih cenderung memasukan Alfath ke daycare ketimbang menitipkan di mbak, pertimbangan kami hampir sama. Setidaknya sampai saat ini.

Dengan mbak, yang ditinggalkan dirumah berdua saja dengan anak saya, saya pastinya akan lebih mengkhawatirkan kondisi Alfath. Saya merasakan bagaimana capek dan "stres" mengurus anak dan rumah tanpa ART. Rasa letih itu pula lah yang sesekali membuat saya sensitif, kadang Alfath dikit2 kena omel saya kalau dia ga nurut, dirumah saya hampir kehilangan ruang bebas gerak saya. Alfath ngintil kemana2, saya susah ngapa2in, padahal saya harus nyiapin makanannya, beresin bekas makannya yang berantakan, belum lagi mainannya yang bertebaran di segala penjuru rumah (biasanya saya diemin aja sampe papanya pulang), perut saya mules, dan kehectic-an lainnya. Kapan saya makan? seringkali saya lupa makan, minum pun jarang.

Walaupun (misalkan saya punya) mbak, pasti akan khusus pegang Alfath saja gak saya haruskan kerjain yang lainnya, tapi tetap saja, si mbak akan capek dan saya takut anak saya di apa2in, dirumah kan ga ada CCTV juga, jd susah mantaunya.

BUT MOMS, (Sengaja saya Caps Lock) saya membantah pikiran teman2 sekalian (kalau ada) yang menganggap saya terlalu meremehkan keberadaan mbak dalam pengasuhan anak. Tidak ya Moms, teman-teman semua, cerita saya disini hanyalah ke"parno"an saya sebagai Ibu yang tidak/belum terbiasa dengan adanya mbak dirumah, saya mempunyai teman dan sahabat yang dirumahnya ada mba dan nanny untuk anak-anaknya, dan Alhamdulillah semuanya baik-baik, tapi saya pun tahu proses mereka mendapatkan mbak sebaik itu tidaklah mudah dan jodoh-jodohan. Proses itulah yang membutuhkan waktu dan berbagai referensi, disaat pencarian mbak dilakukan, si anak harus sama siapa dulu selama ditinggal mamanya kerja? itu yang menjadi concern saya sekarang, dan keberadaan "tim sukses" SANGAT diperlukan.

Alhamdulillaaaah, Alfath punya Oma yang mau ngorbanin apa aja demi dia, tapi saya harus bersiap diri karena saya tahu, tidak selamanya kami boleh bergantung pada Omanya Alfath, untuk itulah kemandirian Alfath harus dilatih. Baca-baca artikel parenting, konsultasi ke dokternya Alfath, dan berbagai upaya lainnya kami lakukan. Sekali lagi, karena saya tahu ini akan berat bagi Alfath, dan saya.

Kedua, kalau dirumah saya takut sosialisasi Alfath kurang dibandingkan di sekolah. Alfath terbiasa stay di lingkungan perumahan yang sepi banget kalau siang, Alfath punya banyak teman tapi biasanya main cuma sore hari dan gak lama. Jujur, saya masih membatasi dia dalam berteman, saya masih sangat memantau kata-kata apa saja yang dipelajari Alfath (menghindarkan dia dari bahasa yang tidak pantas di ucapkan terutama oleh anak kecil).

"Teman sejatinya" Alfath saat itu ya saya, mamanya, teman dia belajar, belajar do'a, nyanyi, joged2, naik sepeda, pakai baju sendiri, makan sendiri, dll. Ketiadaan saya di sisinya Alfath tentunya akan membuat dia sedih, namun sebisa mungkin saya tidak akan membiarkan dia down.

Progress selama Alfath di Daycare semingguan ini.

Alfath sekarang gak banyak nangis seperti di awal-awal, berat banget buat dia lewatin siang hari tanpa "nenen", tanpa bobo sambil melukin mamanya, Alfath pasti kebangun sambil teriak "mamaa..mamaa".

Dia mulai kenal akrab dengan teman-temannya disana, saya baru hafal beberapa, Ada Adam, Ichel (putranya Bunda Ditha, Owner dari daycare tersebut), Kenneth (yang saya belum tau anaknya), dll.
Omanya Alfath biasanya cerita kesehariaan Alfath selama disana, walaupun Alfath pulang lebih dulu dari teman2 lainnya, tapi so far..so good.

Di daycare, ada buku harian anak, semacam buku raport gitu, isinya lengkap tentang kegiatan anak, apakah anaknya ceria atau murung hari itu, bagaimana makannya, bagaimana bermain dan belajarnya, semuanya ada. Dan Bunda Gurunya akan kirim foto keseharian anak2 ke para Mama/Papa.

Makanan pun disiapkan, di daycare ada dapur khusus untuk masak makanan anak-anak, ada kamar khusus baby dan toddler, ada tempat bermain dan belajar, suasanya hommy dan nyaman. Tapi tetap di pantau ya Moms, kalau nitipin anaknya di daycare. Pastikan ada CCTV yang hasil rekamannya sewaktu-waktu bisa kita minta (kalau diperlukan), nomor bunda guru dan ownernya harus kita minta juga.

Alfath di Daycare sama siapa?

Huhu..harusnya sih ditinggal ya, tapi saya masih belum berani ternyata, apalagi omanya. Akhirnya setiap hari Omanya Alfath ikutan di daycare.

Alfath memang tidak saya fokuskan dia harus stay disana seharian sampai mama papanya pulang kerja, karena sekarang masih ada Omanya yang bisa jagain dia, jadi sementara ini kami hanya melatih dan mengasah kemandirian dan jiwa sosialisasinya pelan-pelan, tanpa paksaan. Dan supaya dia gak terlalu "kaget" dengan perubahan suasana rumah yang tiba-tiba sepi gak ada Mamanya kalau siang. Kalau Alfath mulai BT (biasanya karena rebutan mainan sama temannya atau dia tiba-tiba minta pulang), Alfath pasti langsung dibawa pulang. Haha.. lumayan lah ya.

Bayaran Daycare mahal gak sih?

Relatif ya, bagi saya dan suami bulanan di daycare memang lumayan, tapi kami gak keberatan selama anaknya betah dan happy disana. Sampai saat ini, kami masih membayar mingguan saja, karena dilihat mood anaknya juga. Lagipula, kami kerja juga memang demi anak, ngeluarin budget berapapun, kalau demi anak mah.. worth it!!

Di daycarenya Alfath sekarang termasuk yang murah (murah bukan karena kami banyak uang yaa.. itu mah di aminin bangeet, haha.. ini kalau dibandingin sama daycare lainnya aja sih yang fasilitasnya juga lebih yahuuud) nih bulanannya , 1,2 juta/bulan sudah termasuk makan juga. Kalau baru masuk seperti Alfath ada uang pangkalnya 800ribuan dan uang pendaftaran 250 ribuan (kalau gak salah), jadi total di awal 2,2 jutaan. *kekepin buku tabungan dan ATM* #LOL

*Teman-teman, ini ceritanya bersambung dulu ya.. sudah saatnya bikin2 script (ecieee). Kalau ada yang mau tanya2 lagi boleh lho.. feel free like Syahrini yaa.. hihi. Tunggu sambungan ceritanya lagi yaaa.. makasi ya udah mampir dan bacaaa.. semoga bisa menjawab beberapa pertanyaan teman-teman semuanya.

NOTE (lagi) : yang mau endorse Alfath (Dan Mamanya) masih boleh banget lhoo, hahaha.. Sebagai bocoran, Alfath lagi suka banget main mobil-mobilan besarnya, dan pakai baju yang ada gambar kereta/mobil/pesawatnya. Wkwkwk.. ujung2nya teteep usahaa yaaa... *kan emak-emak* :p

Much Love.
Mama Alfath.

You Might Also Like

3 komentar

  1. Hidup adalah pilihan ya, Mak. Apapun itu yg penting do the best. Semangattt, Alfath dan mamanya

    BalasHapus
  2. gpp... enak ko alfath jadi banyak temennya ^^
    semangat ya :) you know your best ^^

    BalasHapus
  3. iya gpp mak, daycare mah penyelamat lo untuk ibu bekerja yang ga punya mba di rumah, atau yg parnoan kalo anaknya ditinggal sendiri sm mba di rumah. Papaun mak, yg senyamannya kita, dan senyaman anaknya. btw selamat kembali bekerja, semoga semua berjalan lancar yah

    BalasHapus

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe