MANUAL BREAST PUMP Philips AVENT, Sahabat terbaik para pejuang ASI

12/24/2014


Nama saya Hani, saya adalah Ibu dari Putra saya yang bernama Alfath Raiha Fastabiq Khair (10 bulan). Dari awal saya mengetahui bahwa saya hamil, saya sudah bertekad untuk memberikan yang terbaik untuk buah hati saya, itu pula lah yang akhirnya menggiring saya untuk resign dan fokus merawat bayi saya di masa-masa emasnya dengan memberikan ASI Eksklusif (dan bahkan sampai 2 tahun usianya).

Bukan hal yang mudah bagi saya untuk memberikan ASI di awal-awal kelahiran Alfath, dikarenakan kondisi saya yang mengidap alergi kronis dan "memaksa" saya meminum obat alergi yang menyebabkan volume ASI saya berkurang. Saya terpaksa meminum obat alergi itu karena apabila tidak, maka badan saya akan drop dan sesak nafas. Beberapa bulan lamanya saya sempat "ketergantungan".


Pada saat drop itulah, saya tidak bisa memberikan ASI secara langsung ke Alfath, solusinya adalah dengan memberikan ASIP yang pada saat itu menggunakan media dot. Tapi karena sekarang Alfath "lupa" caranya ngedot, akhirnya cara pemberian ASIP dirubah menggunakan media sendok, walaupun sesekali Alfath mau ngedot. Sayangnya, terkadang persediaan ASIP saya tidak mencukupi.

Alat pumping pertama yang saya miliki adalah alat pumping manual, mereknya memang bukan merek terkenal dan harganya juga tidak terlalu mahal. Yang ada dibenak saya saat itu adalah, "tidak masalah barangnya murah dan tidak terkenal, yang penting fungsinya". Tapi ternyata saya salah, alat pumping manual tersebut sangat membuat saya tidak menikmati aktivitas pumping. Yang ada, puting saya sakit dan lecet serta jumlah ASI yang keluar tidak banyak. Untuk mendapatkan 20ml pertama saja rasanya lama sekali, saya hampir tidak merasakan Let Down Reflex (LDR) sampai 30 menit saya pumping, rasanya sedih luar biasa, tak jarang saya menangis karena takut pada diri saya yang akan menyerah dan memberikan Alfath sufor dikemudian hari.

Suami saya yang kasian melihat kondisi saya, akhirnya memenuhi permintaan saya untuk membelikan alat pumping elektrik. Wah, senang rasanya. Alatnya ternyata lebih membuat saya nyaman dan tidak menguras tenaga saya karena cukup ditempelkan saja ke payudara, dengan bantalan silikon di "corong"nya, payudara saya tidak kesakitan sedikitpun dan putingnya juga tidak perih. Saya merasa menemukan solusi atas kegundahan saya sebelumnya.

Tapi ternyata saya kembali salah. Ketika badan saya membaik, dan dosis obat alergi sudah dapat hampir saya hilangkan di keseharian saya, saya kembali beraktivitas diluar rumah, baik itu datang ke event-event blogger, mengikuti seminar-seminar dan liputan blogger, yang mana saya harus menitipkan Alfath ke Omanya dulu selama saya pergi. Walaupun kegiatan saya cenderung tidak pernah memakan waktu sampai lebih dari 6 jam, tapi itu cukup membuat payudara saya penuh dengan ASI dan seringkali rembes karena telat di pompa. Saya kebingungan karena saya tidak pernah membawa alat pompa ASI keluar rumah, pasti ribet dengan selang dan kabel-kabelnya itu. Tapi apa kabarnya ASInya Alfath? Dan lagi, payudara saya sudah kesakitan. Wah, saya perlu solusi baru nih, saya nggak mungkin bawa-bawa alat pompa ASI elektrik saya kemana-kemana.

Sampai suatu hari ada seorang teman saya yang menceritakan pengalamannya selama menggunakan manual breast pump Philips Avent. Menurut temen saya tersebut, itu adalah alat pumping manual tapi fungsinya sama praktis dan nyaman dengan alat pumping elektrik. Bantalan silikonnya menghindarkan kita merasakan perih dan lecet karena ada Soft Massage Cushionnya, juga dapat memancing LDR hingga beberapa kali selama proses pumping. Udah gitu bentuknya yang tidak begitu besar, bikin nggak repot buat dibawa kemana-mana.

Dari segi sparepart juga nggak ngerepotin, hanya terdiri dari beberapa rangkaian sparepart saja yang bisa kita rangkai dalam waktu yang cepat dan nggak perlu takut ada yang ngga pas saat dipasang sehingga ASI jadi nggak keluar (seperti pengalaman saya dengan alat pumping elektrik saya). Waahh, menghemat waktu dan nggak bikin mood berantakan pastinya ya.

Saya juga ngiri banget dengan ASIP yang dihasilkan oleh temen saya tersebut, banyak banget sehingga tenang ninggalin si kecil dirumah.

Rasa syukur yang melimpah ketika Alfath berhasil lulus ASIX S1 (6 bulan), tiba saatnya Alfath dikasih MPASI yang tetap saya campur dengan ASIP di menu-menu pertamanya Alfath sebagai media untuk menjembatani rasa, biar si baby nggak kaget dengan rasa-rasa baru dilidahnya. MPASI Alfath sukses bener-bener, tapi saya keteteran jumlah ASIP dikulkas saya yang walaupun nggak sedikit-sedikit banget, tapi jumlahnya pas-pasan. Pengennya sih, bisa nambah persediaan ASIP lagi, tapi PRnya jadi bertambah gara-gara nggak bisa leluasa mompa ASI ditempat saya berkegiatan.

Semoga, saya bisa mendapatkan MANUAL BREAST PUMP Philips AVENT sesegera mungkin sebagai sahabat baru yang akan selalu mendukung saya mensukseskan pemberian ASI kepada baby Alfath sampai usianya 2 tahun. ((Amiiiiiiiiiiiin))

You Might Also Like

0 komentar

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe