Perjuangan Pumping ASIP

10/07/2014

Tetesan demi tetesan, air kehidupan yang bisa mama kumpulkan

Tulisan ini adalah tulisan yang sudah lama ingin mama tulis, tapi sayang selalu saja lupa atau males karena capek, atau disaat sedang semangat ingin nulis malah ada aja hal lain yang harus dikerjakan (misalnya jadi teman main anak mama yang sholeh ini,, hihi..)

 Akhirnyaaa.. mama coba tulis sekarang ya kak.. sedikit cerita tentang "perjuangan" mama yang ingin memberikan ASI eksklusif untuk kamu.

Jauh sebelum mama menikah dengan papa kamu, disaat mama masih bekerja dikantor yang sama dengan kantornya papa, mama mempunyai teman sekantor yang saat itu baru saja melahirkan bayi mungilnya, namanya kakak Ghaisan, putranya Onti Ima.. dan Onti Ima ini sangat rajin memompa ASInya dikantor untuk nanti dibawa pulang dan jadi stok ASIP untuk mimiknya kakak Ghai selama ditinggal kerja Onti Ima. Wiiih, waktu itu mama belum ngerasain betapa butuh effort yang luar biasa ekstra untuk dapat melakukan itu. Mama pikir setiap ibu melahirkan pasti bisa menghasilkan ASI sebanyak yang dibutuhkan tanpa perlu usaha ini itu. But I was wrong 'bout that, son.

Perjuangan itu dimulai ketika usia kamu 5 hari, ketika mama bawa kamu untuk ceck up setelah lahiran, tapi ternyata suster di RS terlihat kaget karena katanya kamu sudah kena kuning sampai kaki dan harus segera di sinar. Dan hal itu di kuatkan oleh perintah dokter yang minta kamu disinar saat itu juga. Mama galau, kalut, dan kebingungan, mama dan papa gak ngerti kamu akan di apakan.

Yang mama ingat, kami langsung diantar satu orang suster ke ruangan NICU, kemudian kamu mama serahkan ke tangan suster lainnya di NICU dan semua baju kamu dibukas, hanya tersisa diapers yang kamu pakai. Dan kamu langsung ditutup matanya sebelum dimasukan ke dalam box dan disinar disana. Nyesss!!

Ketika mama lihat kamu di box itu, badan mama langsung lemas selemas-lemasnya, air mata jatuh kayak air hujan yang deras banget, susah ditahannya. Dan suster pun sempat mengingatkan kalau mama gak boleh sedih karena akan mengurangi  jumlah ASI yang keluar. Dan benar saja, ASI mama yang baru bisa keluar malah semakin sedikit dari yang seharusnya. Padahal saat itu, kebutuhan mimik kamu menjadi double karena sinar biru membuat kamu dehidrasi.

Kak.. mama hanya bisa memompa ASIP maksimal 20ml itupun dengan susah payah dan sambil nangis-nangis karena mama kepikiran kamu di NICU. Papa sampai membuka kamar untuk mama nginep di RS supaya mama gak perlu jauh-jauh dari kamu dan bisa memberikan ASIP dengan mudah. Saat itu kamu di ruangan NICU lantai 4 RS Bunda Margonda, dan mama di lantai 2, jarak yang tidak jauh tapi berasa sangat jauh bagi mama karena gak bisa denger kamu nangis.

Kak.. setiap hampir satu jam sekali mama di telpon suster di NICU yang minta ASIP karena katanya kamu nangis terus kehausan, sementara mama belum mendapatkan ASIP yang banyak untuk kamu, tiap tetes yang begitu berharga mama kumpulkan untuk kamu mimik, dan mama papa selalu berdo'a setiap tetes ASI bisa menjadi obat untuk kamu.

 Papa selalu ada disebelah mama, bahkan papa rela gak ngantor demi kita kak, papa selalu semangatin mama dan yakinkan mama kalau ASInya pasti keluar banyak. Papa belajar pijat laktasi dan langsung praktek, hasilnya mama pun lebih rileks dan semakin membaik secara psikis. Berkat Papa juga kak, hanya dua hari dan kamu dibolehkan pulang. Mama seneng banget.. mama janji sama suster kalau mama akan nyusuin kamu yang banyak dirumah dan gak akan bikin kamu masuk NICU lagi.

Beberapa bulan berlalu, dan ASI mama semakin banyak walau tidak sebanyak seharusnya karena saat itu (bahkan sampai sekarang) mama mengkonsumsi obat yang membuat volume ASI berkurang, maafin mama ya kak,, :(

 
ASIP yang semakin lama semakin mencukupi
Tapi Alhamdulillaaah.. ASInya insya Allah cukup ya kak sampai bisa mengantarkan kamu lulus S1, yeayyy.. dan saat ini kita sedang menuju S2.

Kak.. sebenarnya setiap bayi yang baru dilahirkan mempunyai potensi kuning, katanya itu karena si new born baby sedang membentuk sel darah merahnya (nanti mama cari artikel lengkapnya deh ya), dan apa yang kakak alami waktu itu juga normal, hanya saja salahnya mama dan papa karena mematikan lampu saat malam menjelang tidur, padahal seharusnya jangan karena kamu perlu cahaya dan hangatnya lampu itu. Dan lagi, saat itu cuaca sedang tidak mendukung, mendung terus dan kamu gak kebagian cahaya matahari, susah banget buat sun bathing :'(

Tapi Alhamdulillah lagiiii.. semua sudah berlalu sekarang. Mari kita terus berjuang kak.. Kamu, Mama dan Papa.. demi ASI sampai lulus S3, dan demi kesehatan kamu ya kak.. Amiiiiin..

Semangat ASI!!
Mama love U Kakak Alfath.. <3

You Might Also Like

0 komentar

Selamat datang di Rumah Hani dan Randi, ada Alfath juga lho sekarang. Silahkan menikmati rumah kami, dan jangan lupa meninggalkan jejak yaa.. Terimakasih :))

Followers

Follow Me

Like us on Facebook

Subscribe